Minggu, 11 Desember 2011

Assalamu Alaikum: Kami Wisudawan Organik


...........bengkel redaksi

Selamat datang di tahun 2010. Ucapan seperti ini diucapkan oleh seluruh penghuni planet bumi ini dengan ragam bahasa dan budayanya. Dan bersamaan dengan itu, ucapan belasungkawa untuk wafatnya Gusdur jelas diucapkan juga dari seluruh pelosok negeri ini, (kami pun turut berduka cita).
Sebenarnya, semua adalah kepastian dan bukanlah suatu kebetulan jika di hari yang sama ada suatu kejadian terjadi secara bersamaan. Terserah kalau itu kemudian merupakan kisah getir atau kisah manis.
Dan di awal tahun 2010 ini semua orang pasti punya rencana untuk menjawab kelanjutan strategi hidup selanjutnya, se-kaligus punya semacam evaluasi yang entah besar atau kecil dari segala bentuk tata cara menjalani hidup di tahun sebelumnya.  Ada banyak hal yang bisa dilakukan setelah perjalanan panjang yang melelahkan ini, dan harusnya kita juga berhenti sejenak merenungkan bentuk kemanusiaan yang telah kita capai.
Tapi ada juga kesempatan yang begitu panjang untuk terus-terusan bermalas-malasan dalam situasi yang kabur. Hal itu bisa terjadi di karenakan hilangnya beberapa kepercayaan terhadap realitas yang tengah kita jalani setiap hari. Seolah setiap detik ada pengkhianatan yang menusuk dari segala arah yang mengharuskan kita terkapar dalam labirin luas tanpa dinding pembatas yang jelas.
Namun di luar dari itu semua, kita berhak untuk melawan atau berdiam diri, karena hakikat peperangan yang besar bukanlah menaklukkan musuh-musuh seraya berpesta sesudahnya. Musuh dalam dirilah yang harus di lawan. (merujuk pada sabda Rasulullah). Dan revolusi bukanlah santapan makan malam sebagaimana yang di peringatkan oleh Mao Tse Tung (bapak komunis Cina)
Akumulasi kesadaran kita semua tentunya menjadi hakim yang arif dalam mengeksekusi sejumlah tumpukan persoalan yang tidak selesai di tahun yang lalu, dan hari ini apakah mau diselesaikan atau membiarkannya membusuk begitu saja.
Maka dari itulah edisi ke empat ini kami rancang untuk kembali mengganggu ke-tenangan pikiran sidang pembaca, dan men-coba menawarkan wacana yang mungkin abstrak dan tidak aktual bagi situasi yang anda hadapi. Dan tentu menganggu tidur panjang anda yang tidak pernah lelap itu. Tapi paling tidak, edisi ke empat ini berusaha untuk lebih jujur lagi dan menjadi teman yang tidak mencurigakan dengan ragam retorika belaka.

Sabtu, 25 Juni 2011

Semangat Baru


...........bengkel redaksi

Lama sekali rasanya baru bisa tampil kembali menyapa para pembaca yang budiman. Dari beberapa bulan sejak musim Pilkada lalu, barulah kali ini bulletin ilalang berusaha untuk menyusun kalimat dalam berkomunikasi dengan pembaca bulletin yang selalu menunggu edisi terbaru.
Jika boleh jujur, ada banyak momen kegiatan yang telah dilalui. Baik itu kegiatan internal kampus maupun kegiatan diluar kampus yang menyita dan menguras tenaga kami, sehingga kami terkadang lupa untuk merekamnya lewat catatan-catatan dalam bulletin seperti yang edisi yang lalu-lalu.
Olehnya itu melalui edisi kedelapan ini rangkuman kegiatan yang telah dilewati, kami mencoba mengingatkan kembali.
Sebelum memasuki bulan puasa kemarin. Kampus ijo kita yang tercinta ini telah kedatangan “tamu” (baca: pendaftar) yang jumlahnya lumayan banyak, mereka datang dari segala penjuru mata angin di Kabupaten Pangkep. Hal itu tentunya suatu kesukuran yang luar biasa yang harus kita perlakukan sebaik mungkin.
Setelah mereka diterima dengan baik, beberapa diantara mereka berniat untuk tinggal mengisi hari-harinya untuk menimbah ilmu. Tercatat jumlahnya 63 orang yang kemudian dibekali pengetahuan dasar tentang isi rumah Kampus STAI DDI Pangkep ini melalui kegiatan Trapemaru selama tiga hari satu malam.
Melalui orientasi yang berkonsep non kekerasan itu para Mahasiswa baru terlihat begitu antusias meski ada juga diantara mereka ada yang mengalami kelelahan fisik (pingsan) dan kesurupan. Namun hal itu sudah bukan lagi hal yang baru, mengingat pelaksanaan Trapemaru sebelumnya juga terjadi hal yang demikian. Sehingga panitia tidak lagi merasa panik untuk menanganinya.
Selanjutnya beberapa lembaga mahasiswa perlahan bangkit kembali, dimulai dari kegiatan LDK tingkat SMU yang dirancang oleh HMJS (Himpunan Mahasiwa Jurusan Syariah) sebagai sebuah tanda dalam mencatatkan dirinya kedalam sejarah dan ingatan para mahasiwa.
Selain tentunya selingan kegiatan nonton bareng dan bedah film pendek dirangkai dengan pembacaan puisi oleh Ketua STAI dan Pak. Amir sebagai kejutan kegiatan bagi Maba karena pada malam itu juga diserahkan sertifikat Trapemaru.
Lalu lembaga mahasiwa yang paling tua di Kampus Ijo, Mahaddipala juga telah melaksanakan Mubes untuk memulai suatu langkah baru dari para generasi mudanya.
Terakhir, lembaga mahasiswa paling central yakni Badan Eksekutif Mahasiwa juga telah menggelar Mubesnya untuk ke enam kalinya dengan mencatat Muh. Yuhar sebagai Ketua terbaru pilihan mahasiswa.
Tentunya kita semua berharap dari wajah baru dari generasi baru para pemegang tongkat estafet lembaga mahasiwa di Kampus Ijo ini mampu menggerakkan lembaga yang dikomandoinya menuju capaian yang lebih baik.
SEMOGA... 

Rekomendasi Kulambing, Gerakan kembali ke Kampus, Profil Mahasiswa dan lain sebagianya.....!!


...........bengkel redaksi

Tak terasa bulletin ilalang sudah terbit untuk ketuju kalinya dengan ragam wajah yang sederhana di setiap edisi.
Jujur harus kami akui kalau ada kesulitan yang lumayan sulit untuk dijelaskan setiap kali merancang edisi terbaru, kemudian ada kebahagiaan yang yang tak kalah rumitnya bila sudah terbit. Seolah kami telah menempuh sebuah perjalanan yang panjang dengan sedikit bekal.
Kami ingin menceritakan kembali beberapa aktifitas beberapa hari belakangan ini yang telah dilalui bersama teman-teman. Dimulai pada awal bulan Juni, kami menghadiri acara perpisahan salah satu posko KKLP STAI DDI Pangkep tahun 2010 di Desa Tompo Bulu.
Kami tiba pada pukul 17.06. di sisa sore menjelang magrib, teman-teman menyempatkan waktu untuk uji coba bermain sepak bola dengan team Dentong FC yang berakhir dengan skor kaca mata (0-0). Malam harinya masyarakat setempat memberi suguhan mappadendang, sebuah jenis kesenian tradisional yang sudah sangat jarang dipentaskan. Dan nyayian gambusu oleh kelompok kesenian lainnya yang masih eksis di Desa yang terkenal dengan gula merahnya itu.
Usai seremonial perpisahan KKLP yang berlangsung kurang lebih dua jam itu. Kami yang hadir menyimpan perasaan yang sulit dijabarkan antara malu, bangga, dan sedih melihat penampilan teman-teman yang masih terlihat kaku berbicara didepan publik.
Tapi kami menyadari kalau yang menjalani program KKLP adalah teman-teman yang jarang kami jumpai dalam mata kuliah yang tidak di “SKS” kan yakni kegiatan berorganisasi.
Aktifitas lain yang kembali menyatukan kami kedalam satu rasa adalah laga uji coba dengan team sepak bola sejumlah desa. Yang terakhir melawan keseblasan Padanglampe dengan skor yang cukup meyakinkan kalau kami kurang stamina dikarenakan malamnya kami begadang di Pualu Kulambing. Hasil akhir sebelum wasit meniup peluit tanda pertandingan telah usai yakni dengan skor 5-2 untuk kemenangan team Padanglampe. Tapi hal itu tetap membuat kami bangga, karena yang terpenting adalah prosesnya.
Lalu pada tanggal 5 Juni kemarin, tercatat sedikitnya 30 orang lebih berangkat kepulau Kulambing untuk mengevaluasi kevakuman teman-teman dalam segala hal. Utamanya menyangkut krisis SDM teman-teman dan rencana sosialisasi kampus untuk merekrut mahasiswa baru.
 Pada awalnya Kabupaten Pinrang menjadi pilihan utama untuk dijadikan tempat menyusun strategi, tapi karena adanya pertimbangan-per-timbangan yang tidak tersepakati, akhirnya pilihan jatuh pada pulau Kulambing yang jaraknya lumayan dekat bila berangkat dari dermaga Labuangbaji.
Dari sana lahir rekomendasi Kulambing yang intinya mengajak teman-teman untuk berbuat yang lebih banyak lagi tanpa pamrih untuk kampus IJO yang kita cintai ini.
Kembali kekampus, kembali mencari ilmu, kembali menjadi manusia, dan kembali mencari cinta...Oc


Menanti usainya Pembangunan Mushollah....


...........bengkel redaksi

Usai sudah kesibukan selama tiga hari dua malam, pagi cerah menyambut sebagian panitia yang memilih untuk tidak tidur. Entah berapa lagu yang dihabiskan untuk mengusir kantuk, tak dapat terhitung lagi dengan kondisi yang setengah sadar akibat serangan virus kantuk yang memang susah untuk diajak kompromi. Tapi hal itu bukan suatu masalah. Detik kedetik kami lewati dengan aneka ragam keberanian yang berdasar pada, kalau malam terakhir kegiatan kampung kreatifitas pelajar tingkat SMU Se-Kabupaten Pangkep, sangat sulit untuk dilewatkan begitu saja.
Jika harus dibandingkan dengan kegiatan yang serupa pada tahun lalu, tentu ada beberapa perbedaan, kegiatan kali ini sedikit lebih teratur dari segi format kegiatan yang tidak begitu kaku, mungkin dikarenakan dengan adanya pengalaman dikegiatan tahun lalu.
Malam jadi siang dan siang jadi malam, itulah kenyataan yang tak terbantahkan untuk hari terakhir kegiatan. Ada beberapa kejadian yang yang tak biasa, salah satunya yang akan terus diingat adalah, keberanian salah satu peserta untuk mengutarakan cintanya diatas panggung, meski kemudian tak ada respon dari perempuan yan ditembaknya itu. Tapi terlepas dari itu, sikap berani untuk menanggung resiko sudah ditunjukkan oleh peserta dari MA DDI Bowong Cindea itu. hal itu sedikit banyaknya membuka mata semua orang malam itu kalau perjuangan untuk mendapatkan seorang cewek (pacar) tidaklah mudah. Jadi yang sudah punya pacar, setialah selalu dan berusahalah untuk merawat hubungan yang sudah terjalin.
Sebenarnya bulletin ilalang edisi ke enam ini sudah harus terbit beberapa minggu yang lalu. tapi lagi-lagi segerobak aktifitas berdesakan untuk segera dituntaskan. Dan barulah hari ini pembaca baru bisa mengunyah lembaran bulletin ilalang ini.
Selanjutnya kami hendak mengingatkan kepada teman-teman kalau masa pendaftaran mahasiswa baru sudah berjalan. Dan tentunya kita berharap kalau kampus Ijo STAI ini menjadi pilihan yang digemari untuk melanjutkan jenjang pendidikan. Mengingat akreditasi sudah di-emban sejak tahun 2009 kemarin.
Dari rekomendasi dua kegiatan se-belumnya, teman-teman merilis pendapat peserta dengan pendekatan quesioner, dan mayoritas peserta menilai kalau infrastruktur yang masih kurang dikampus STAI ini. Jalan masih becek bila hujan mengguyur, mushollah yang belum kelar, sarana air bersih juga belum ada, sehingga terbengkalainya jadwal kegiatan.
Semoga saja kedepan pihak lembaga fokus untuk merampungkan kebutuhan mendasar untuk fasilitas kampus. Agar teman-teman lebih bersemangat lagi untuk merancang kegiatan yang lebih besar dan bergengsi...............Oc...

Dari penghuni sekret hingga intelektual miring dalam sejarah demokrasi indonesia, kemudian beberapa persepsi terkait kampus ijo STAI DDI Pangkep


...........bengkel redaksi

Matahari pagi sepertinya tak pernah alpa membangunkan kami dikamar sekretariat. Mungkin inilah salah satu sejarah buat kami semua dapat terbangun diawal pagi. Padahal sebelumnya, bangun pada jam sepuluh keatas sudah merupakan waktu yang paling cepat buat kami semua.
Kejadian itu terjadi disaat kami melaksanakan kegiatan Quantum Learning tingkat SMU Se-Kab. Pangkep pada tanggal 13 sampai dengan 15 Februari 2010 yang lalu. Setelah itu, rasa senang dan capek menggerogoti  benak kami, sehingga perlu untuk refresing ke Palopo makan Durian, Rambutan dan Langsat.
Lalu pada tanggal 12 Maret kemarin muncul inisiatif untuk melanjutkan kegiatan per-kampungan kreatifitas pelajar, dan terbentuklah kepanitiaan dengan membuat bazar dana sebagai salah satu tahapan awal dalam pengumpulan dana.
Padatnya jadwal antara kuliah dan jadwal pribadi hingga membuat kami alpa dalam menerbitkan edisi untuk bulan Februari dan Maret, dan barulah saat ini kami kembali muncul setelah punya waktu luang untuk menuliskan kesaksian-kesaksian dalam edisi April ini.
Sedikit bersyukur karena kekhawatiran akan tidak adanya generasi yang mau mengambil resiko dengan ragam Pengorbanan yang dilakukan akhirnya muncul satu-satu dari perginya satu-satu penggerak organisasi. Harmoni akan terpelihara jika tidak ada gangguan internal yang mengacaukan gerak teman-teman yang ikhlas bekerja tanpa ada yang mau berwatak tikus, seperti yang terjadi pada tahun 2009.
Munculnya kesadaran tahu diri, dan tidak adanya percontohan untuk berbuat licik yang mempengaruhi anak-anak penghuni sekret saat ini, adalah sebuah indikasi akan terangngya dan semakin eksisnya lembaga kemahasiswaan STAI DDI Pangkep kedepan. Tinggal perlu penguatan wacana pada teman-teman agar lebih mampu dan mandiri lagi dalam mengkonsep sebuah kegiatan sampai pada wilayah teknisnya yakni, pembuatan proposal, persuratan, dan termasuk melanjutkan kegiatan tahunan kampung kreatifitas pelajar dan merawat buletin ilalang ini).
Yang pastinya rintangan dan godaan pasti ada, olehnya itu kita wajib memiliki cinta dalam setiap aktifitas dan menjalankan gerak organisasi karena bila tidak, maka kita akan sengsara dan perlahan tersingkirkan dengan sendirinya.
Terakhir ada potongan lagu dari Iwan Falls,
”......telah datang hari baru, bintang-bintang anak zaman. Telah datang perubahan bintang-bintang anak zaman......”
Sebab kita akan semakin tua, olehnya itu mari berbuat yang manis-manis saja.....OC..

Beberapa Agenda Desember 2009


.......bengkel redaksi

Tahun-tahun yang telah lalu meninggalkan ragam makna dalam menjalani hidup ini. Semua kesaksian telah rangkum dalam buku catatan harian dan dalam benak tiap manusia yang peduli pada hari-harinya. Kita harus mengakumulasi semua kemenangan-kemenangan kecil disepanjang tahun 2009 yang akan usai, terserah kemudian kalau kemenangan itu betul-betul kecil yang penting tak lagi membuat kita labil menjalani hidup di tahun 2010 yang akan datang.
Disepanjang jalan yang ramai ini kita akan selalu berkelahi dengan hingar bingar waktu, kejar-kejaran dengan sinar matahari, dan terkadang kita jatuh bangun dipersimpangan jalan, atau yang paling seksi dalam kehidupan mahasiswa, yakni menyebar mimpi-mimpi yang bersamaan dengan menyebar utang-utang rokok. Tapi hal ini mungkin subyektif saja, namun kami meyakini kalau hal itu pernah kita lakukan.
Sampai saat edisi ketiga ini kami konsep, sebagian utang rokok kami belum rampung semua. Sebenarnya ada banyak hal yang membuat itu tertunda. Tapi yang mendasar adalah, karena sebagian isi dompet kami yang tidak seberapa itu dikuras habis untuk membiayai dua edisi buletin sebelumnya. Dan hal itu membuat kami bangga sebangga-bangganya dengan mengumpulkan sejumlah alasan-alasannya. Mungkin pula hal yang kami lakukan sama dengan sebagian teman-teman yang menguras isi dompetnya untuk sebuah skripsi. Tapi apakah mereka bangga dengan itu? Entahlah...!
Tepat pada pukul 23:21 kami hampir berada pada sebuah kondisi yang ngantuk berat, kopi sudah habis dan rokok sisa sekali isap saja sebelum menjadi puntung. Tapi edisi ke tiga ini belum juga rampung. Lalu kami punya keinginan untuk berdoa agar Tuhan memberi mukjizat, namun akumulasi kesadaran kami mengingatkan kalau kami sama sekali tak punya hak untuk memerintah Tuhan. Jadinya kami berusaha saja melawan kantuk dan dinginnya malam.
Sampai disitu kami hanya teringat cerpennya LeoTolstoy kalau Tuhan itu maha tahu akan tetapi terkadang menunda. Ya, Tuhan memang tak pernah tertidur  pulas dan kamipun meyakini kalau usaha ini disaksikan oleh Tuhan. Selanjutnya tembang-tembang lawas Iwan Falls menemani kami sepanjang malam, kalau kita harus selalu siap menjawab waktu dan bukan waktu yang akan menjawab rencana-rencana kita.
Sudah cukup keterbatasan ini, sudah cukup kekurangan ini, sudah tuntas peta ini, sudah siap bekal ini, sudah rampung rencana ini, sudah usai kesedihan ini, sudah lengkap ketidakadilan ini, sudah jenuh kesaksian ini, sudah siap solusi ini.
Dan selanjutnya mari kita berangkat ke tahun 2010 dengan segala kesiapan yang sudah direncanakan dengan matang.  Bersiaplah karena segalanya bisa berubah di tengah perjalanan yang kejam ini.
Ayo berangkat ..........terserah mau naik apa, yang jelas harus sampai pada tujuan yang akan anda tempuh. Bagi yang tidak cukup bekal, diperjalanan boleh singgah mencari nafkah, asal tidak mencuri atau merugikan orang lain.,,,,,,,,,,,,,

CPNS, Pilkada, dan Tragedi STAI


.......bengkel redaksi
Akhirnya kami semua dapat tertidur pulas kembali setelah beredarnya edisi perdana buletin ilalang yang serentak di tiga kampus STAI, yakni STAI MAROS, STAI Negeri Pare-Pare dan STAI Pangkep sendiri. Dan selanjutnya kami sibuk membalas sejumlah SMS, Email dan sesekali menerima telephone. Semuanya tidak hanya pujian tapi juga kritikan dan rasa takjub yang heran. Kok, di era serba teknologi sekarang ini masih menggunakan media yang biasa (bulletin) untuk menyebarkan gagasan? dan kami menjawabnya dengan mengingatkan tesis Herbert Marcuse, kalau kami tidak mau terjebak pada tipe manusia yang satu dimensi saja (One Man Dimention).
Lalu sekembali dari tidur yang lelap itu kami terbangun dan langsung mengunyah berita di harian Fajar kalau lulusan STAI DDI Pangkep bakal tidak di akomodir untuk seleksi CPNS 2009. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya kalau alumni STAI di “haram”kan untuk ikut seleksi CPNS. Di mulai sejak tahun 2005 selalu saja ada isu-isu miring dari orang-orang miring yang mengangkat berita di media kalau alumni STAI harusnya di cancel dalam setiap seleksi CPNS.
Berdasarkan kesaksian salah satu alumni yang kini sudah PNS. Peristiwa yang paling menyedihkan disaat seleksi CPNS tahun 2005 dimana berkas STAI dibedakan dengan menggunakan map warna kuning. Dan setelah pengumuman hasil seleksi, semua hasil dari alumni STAI error semua.
Kini kekerasan psikologis terhadap alumni STAI DDI Pangkep kembali terjadi di tahun 2009 ini. Tahun yang mendekati pilkada Kab. Pangkep 2010. Ada banyak kemungkinan yang bisa dijadikan rujukan mengapa STAI menjadi bahan yang empuk untuk dijadikan trend isu, salah satunya adalah sejarah protes para mahasiswanya yang selalu melakukan aksi di jalan.
Keterangan lain dari ketua STAI pada saat rembuk pendapat dipelataran rumput hijau be-berapa hari lalu menyatakan kalau hal ini ada kaitannya dengan suhu politik Pilkada. Dan ada kemungkinan kalau pelempar isu menghendaki agar mahasiswa STAI turun kejalan memprotes Bupati Pangkep, dan bila itu terjadi, besar kecilnya tentu keuntungan bagi salah kandidat lainnya. Tapi jalan lain diambil oleh pihak lembaga, alumni dan mahasiswa, yakni jalan ala Sariwangi. Mari Ngeteh mari Bicara.
Bukannya mengadu dan kami sama sekali tidak kebakaran jenggot atas isu yang dilontarkan oleh salah satu individu dari BKD. Dan selanjutnya hasil bicara dengan Bupati itu.........................................................Baca dan maknai sendiri di  Fajar edisi 6 November 2009.