Sabtu, 25 Juni 2011

CPNS, Pilkada, dan Tragedi STAI


.......bengkel redaksi
Akhirnya kami semua dapat tertidur pulas kembali setelah beredarnya edisi perdana buletin ilalang yang serentak di tiga kampus STAI, yakni STAI MAROS, STAI Negeri Pare-Pare dan STAI Pangkep sendiri. Dan selanjutnya kami sibuk membalas sejumlah SMS, Email dan sesekali menerima telephone. Semuanya tidak hanya pujian tapi juga kritikan dan rasa takjub yang heran. Kok, di era serba teknologi sekarang ini masih menggunakan media yang biasa (bulletin) untuk menyebarkan gagasan? dan kami menjawabnya dengan mengingatkan tesis Herbert Marcuse, kalau kami tidak mau terjebak pada tipe manusia yang satu dimensi saja (One Man Dimention).
Lalu sekembali dari tidur yang lelap itu kami terbangun dan langsung mengunyah berita di harian Fajar kalau lulusan STAI DDI Pangkep bakal tidak di akomodir untuk seleksi CPNS 2009. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya kalau alumni STAI di “haram”kan untuk ikut seleksi CPNS. Di mulai sejak tahun 2005 selalu saja ada isu-isu miring dari orang-orang miring yang mengangkat berita di media kalau alumni STAI harusnya di cancel dalam setiap seleksi CPNS.
Berdasarkan kesaksian salah satu alumni yang kini sudah PNS. Peristiwa yang paling menyedihkan disaat seleksi CPNS tahun 2005 dimana berkas STAI dibedakan dengan menggunakan map warna kuning. Dan setelah pengumuman hasil seleksi, semua hasil dari alumni STAI error semua.
Kini kekerasan psikologis terhadap alumni STAI DDI Pangkep kembali terjadi di tahun 2009 ini. Tahun yang mendekati pilkada Kab. Pangkep 2010. Ada banyak kemungkinan yang bisa dijadikan rujukan mengapa STAI menjadi bahan yang empuk untuk dijadikan trend isu, salah satunya adalah sejarah protes para mahasiswanya yang selalu melakukan aksi di jalan.
Keterangan lain dari ketua STAI pada saat rembuk pendapat dipelataran rumput hijau be-berapa hari lalu menyatakan kalau hal ini ada kaitannya dengan suhu politik Pilkada. Dan ada kemungkinan kalau pelempar isu menghendaki agar mahasiswa STAI turun kejalan memprotes Bupati Pangkep, dan bila itu terjadi, besar kecilnya tentu keuntungan bagi salah kandidat lainnya. Tapi jalan lain diambil oleh pihak lembaga, alumni dan mahasiswa, yakni jalan ala Sariwangi. Mari Ngeteh mari Bicara.
Bukannya mengadu dan kami sama sekali tidak kebakaran jenggot atas isu yang dilontarkan oleh salah satu individu dari BKD. Dan selanjutnya hasil bicara dengan Bupati itu.........................................................Baca dan maknai sendiri di  Fajar edisi 6 November 2009.


buletin ilalang :adalah salah satu proyek kerja dari UKM SENI ilalang STAI DDI Pangkep dalam bidang dokumentasi dan penulisan. dan sebagai jendela informasi tentang seputar kegiatan. Sekaligus dimaksudkan sebagai wadah bagi teman-teman dalam menuliskan sejumlah eksperimen kepenulisan agar tercipta model baru dalam menuliskan kesaksian. Dan juga merupakan program bahan bacaan gratis yang bisa dijumpai di warung-warung kopi, perpus daerah, sekolah dan di kampus. Redaksi menerima sumbang tulisan dari mana saja berupa, Cerpen, Puisi, Catatan Harian, Artikel, Essai, Foto dan Karikatur. Bagi yang berminat bisa menghubungi  langsung ke : 085 244 151 755 (F.Daus AR) / 081 355 846 303 (Pio AN) / 085 298 269 515 (Kamal N) / Dato (085 255 895 112) Atau kirim ke e-mail ilalangddipangkep@yahoo.co.id. Karya yang dimuat tidak akan mendapatkan honor apa pun. Kami hanya meyakinkan kalau karya anda merupakan yang terbaik dari yang tidak baik-baik. Thats All, Key....!


..............Corat-Coret

Sabtu, Minggu dan Senin

Adalah nama-nama hari yang harus kami ingat dengan segala persepsi berdasarkan kepentingan yang berbeda bila me-langkahkan kaki kekampus, selain hendak mendengarkan ragam karakter dosen dalam bercerita, tentu juga ingin bercengkrama dengan teman-teman, dan tentunya sebagai pemenuhan keinginan untuk melunaskan sebuah janji dengan seseorang. (hayo tebak,,,kira-kira dengan siapa,,,?)  
Bisa dipastikan kalau ketiga hari di atas merupakan lembaran kertas yang sebenarnya sudah penuh dengan jadwal. Tapi “ribuan” dari kami yang namanya terdaftar dalam buku raport STAI DDI Pangkep selalu saja mengantongi alat penghapus yang memungkinkan meng-hilangkan jadwal yang sudah ada dan menggantinya dengan jadwal-jadwal lainnya. Kemungkinan berikutnya adalah, jika ada mahasiswa yang menghapus jadwal yang padat di ketiga hari tersebut, itu diakibatkan karena mereka mungkin tidak bahagia dengan jadwal itu, atau mungkin jenuh dengan orang-orang (dosen) yang mengisi jadwal tersebut. Karena setiap kesempatan wajibnya mengerti akan situasi dan kondisi.
Lalu mengapa sekolah tidak menjadi tempat yang membahagiakan bagi siswanya?, atau juga mengapa kampus tidak menjadi tempat yang membahagiakan bagi mahasiswanya. Hal ini sama halnya dengan kegelisahan manusia akan sejumlah takdir yang tak terpahami dari Tuhan. Dan Ebiet G. Ade memberi analogi yang cerdas dengan mengajak bertanya pada rumput yang bergoyang dalam sepotong lagunya yang abadi itu.
Apakah kita memerlukan redefenisi tentang pemaknaan Almamater? Se-benarnya tidak perlu, karena makna awalnya sudah sangat bijak yakni, Ibu yang mengasuh. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan kita untuk memaknainya dengan ragam interpretasi terhadap konteksnya yang sekarang. Everet Reimer mengejek sekolah dan lembaga pendidikan dalam bukunya “Sekolah Sudah Mati”. Paulo Freire mencatat keangkuhan para guru atau pengajar (dosen) yang terjebak dalam keperofesionalismeannya. Selanjutnya Ivan Illich mengkampanyekan agar masyarakat terbebas dari belenggu sekolah.
Ketiga tokoh pendidik kritis diatas bukannya tidak sepakat dengan sekolah bagi manusia, akan tetapi. Ia hanya mem-peringatkan kalau sekolah bukanlah lembaga sosial yang benar-benar ampuh bagi masa depan manusia. Karena jaringan ideologi tentu ada pada setiap lini hidup manusia. Dan hidup memang pertarungan sebuah ide.
Dan kita memimpikan sebuah sekolah atau kampus yang tidak membuat kita lupa pada nama-nama tetangga dengan padatnya ragam jadwal dan aturannya yang ada.


............Catatan Harian

Membaca Sistem Tanda
(Sekedar Analisis Terhadap Patung dan Tugu di Ruas Pangkep )

Jika ada sesuatu yang baru kita lihat, kira-kira apa yang timbul dalam benak kita. Apakah kagum, kaget, setuju, marah, atau bertanya-tanya. Dan bisa dipastikan asosiasi pikiran kita hanya bermain pada ketiga persepsi yakni, kalau tidak kagum pasti kaget atau setuju, jarang kita marah karena merasa tidak memiliki hak. Dan jarang pula kita bertanya-tanya karena kita tidak tahu siapa yang bakal memberi jawaban.
Mari kita mulai kesaksian indera mata kita. Semua pasti sudah melihat patung Andi Mappe dan patung jam Semen Tonasa yang lokasinya dekat Cafe Torani. Ia sudah mematung tegak dengan sebuah maksud yang beragam dibenak para pembacanya (baca : yang melihatnya).
Sejarah sebuah patung adalah sejarah akan sebuah kekuasaan yang tidak selalu bebas untuk dimiliki oleh siapa pun, hal itu dikarenakan oleh sebuah peperangan untuk mendapatkan hak paten untuk diakui. Karena dalam melakukan sebuah penaklukan bukanlah sesuatu yang mudah.
Hal itu pernah terjadi beberapa tahun yang lalu di Pangkep ini, dulu pernah ada patung bambu runcing kemudian di rombak sebelum berdiri lagi patung bambu runcing yang sekarang. Dan tidak jauh dari lokasi itu juga pernah ada patung berupa tangan. Dan di lokasi yang sama juga ada berupa pajangan tembok setinggi kurang lebih dua meter dengan panjang sekitar kurang lebih lima meter dan dinamakan panggung corat-coret. Disana pernah terjadi pengalaman komunal anak muda Pangkep yang terhenti setelah bergantinya kebijakan tata ruang kota.
Diujung barat dan diujung selatan Pangkep juga dipasang sistem tanda berupa tugu perbatasan, di Kalibone patung perbatasan di jaga dengan burung Rajawali dengan kedua sayapnya yang mem-bentang, yang entah ingin terbang atau baru saja menjelajah dan singgah beristirahat, karena bentangan sayap juga merupakan petunjuk kalau burung baru saja terbang. Dan hal yang sama terjadi pula pada tugu perbatasan di Mandalle.
Sejauh ini pernahkah kita bertanya dan tidak hanya setuju saja. Pertanyaan sederhananya bisa di mulai dengan, kalau burung jenis Rajawali apakah hidup bebas di alam Pangkep dan sejauh mana ia membekas dalam alam pikiran masyarakat Pangkep. Layaknya burung jenis Cenderawasih yang begitu melegenda dalam sejarah benak masyarakat Papua.
Memang ada patung Ikan Bolu dan Udang (doang sitto), yang begitu melekat dalam benak orang Pangkep, tapi itu berdiri di daerah Male’leng yang tidak jauh dari jembatan. Ia tidak begitu gagah bila dibandingkan dengan rancangan arsitektur patung jam yang di apit dengan kantungan semen tonasa, dan seperti terlupakan kalau Ikan Bolu dan Udang merupakan salah satu perangsang ekonomi masyarakat Pangkep.
Dan benarkah kalau kita tidak memiliki sesosok pahlawan yang bisa kita ingat dengan sejarahnya yang berbeda. Karena tidak semua pahlawan harus melewatiI sebuah sejarah kekerasan dan penaklukan.
Masyarakat Bone mencoba jujur dengan melawan data-data sejarah dari pusat (Pemerintah) yang men”cap” Arung Palakka sebagai pengkhianat. Tapi dalam benak masyarakat Bone dengan menggunakan kacamata filosofi Bugis atau dalam hal ini konsep Siri na Pesse menempatkan sosok Arung Palakka sebagai pahlawan yang harus selalu diingat. Dan patungnya wajib ditegakkan sebagai penjelas akan sejarah kemerdekaan suku Bugis dari perbudakan kerajaan Gowa.
Sejauh ini pernahka kita kaget dengan patung Andi Mappe yang duduk dengan sorot mata yang tajam. Lalu bertanya, apa kontribusi kita hari ini terhadap sejarah Pangkep. Sampai disini, tentuya kita tidak ingin membuat suatu sintesa keraguan akan sosok kepahlawanan. Melainkan lebih pada rangkaian suatu konsep yang menjelaskan tentang ingatan sejarah yang melekat pada suatu daerah.
Pada salah satu kalimat dalam Novel Bumi Manusianya Pramoedya Ananta Toer, mencoba mengingatkan kalau ukuran suatu kemajuan suatu bangsa bukanlah dengan kemegahan akan bangunannya, karena jika demikian bumi Nusantara (sekarang di sebut Indonesia) sudah barang tentu daerah yang paling maju. Karena sudah bisa membangun Candi Borobudur sedangkan di wilayah Eropa pada saat itu belum ada sama sekali bangunan semegah Candi Borobudur, dan jika hari ini dengan kecanggihan teknologi yang dimiliki oleh Eropa. Lalu mengapa tidak juga membangun sebuah Candi yang lebih besar dari Candi Borobudur?. Jawaban sederhananya adalah, karena Eropa sama sekali tidak membutuhkan sebuah Candi untuk masyarakatnya. Artinya kemudian adalah kelekatan suatu bangunan harusnya jangan dipisahkan dengan kultur masyarakatnya. Karena yang terjadi hanyalah suatu keterasingan dan sekedar merupakan hantu-hantu modernitas.
Sepanjang ingatan kita semua, di daerah Tala terdapat sebuah patung Jambu Mete yang memang di lokasi itu hidup dengan suburnya dan merupakan nafas ekonomi oleh masyarakat setempat. Kemudian di jalan masuk Padang Lampe terdapat patung Jeruk yang rancangannya sedikit modern dengan menggunakan bahan baku besi dalam pembuatan patungnya. Dan patung Jeruk itu sangat relevan dengan kondisi daerah tersebut.
Karena patung merupakan sistem tanda yang terekam dalam benak suatu masyarakat yang tanpa perdebatan akan keberadaanya.
Sunaryo (pembuat patungnya Jenderal Sudirman) pada salah satu pameran tunggalnya pernah membuat patung yang begitu abstrak. Dan patung itu menjelaskan tentang keberadaan kota Jakarta yang tak jelas lagi karakternya karena telah lupa pada sejarahnya dan kultur masayarakatnya sendiri. Nah, bagaimana dengan Pangkep?

Oleh,
F. Daus AR
Saat ini sedang berusaha menjalani hidup yang wajar-wajar saja.

............Dan Lain Sebagainya
Mutiara Pelebur Sunyi

Air menggores dalam jendela
Menikam tanah bertubi
Meresapkan darah tubuh yang kaku
Bayang-bayang fatamorgana
Mengulas senyum dalam denting piano
Bercengkrama dalam gesekan
cahaya jingga
Berbalut dawai sang penyair
Di sudut jalan sana
Air tubuhku megalir deras
Membanjiri kerongkonganku
                Penyair jalan sendiri
                Dalam sketsanya menemani
                Barbaring dalam pupil yang terkatup
Kuciumi kulit renyah itu
Dalam belaian sutra putih menghampar
Disudut malam sana mutiara kosong
pecah
lebur pecah sunyi
Masaku meleleh
Mengalir dalam helai
Mahkota kamboja
Meresap dalam tanah basahku yang merah

Puisi oleh :
J u m l i a n a
Siswi SMU Negeri 1 Labakkang

(Puisi ini juara 1 pada lomba cipta pusi tingkat SMU
Se-Kab.Pangkep yang di adakan oleh BEM dan  MAHADDIPALA STAI DDI Pangkep Maret 2009)

Kampusku Malang, Kampusku Sayang


Kedamaian kampus kami kini kembali terusik oleh rentetan isuisu yang menyayat hati, luka lama yang sempat mengering kini kembali menganga.
Tak ada lagi yang tersisa, selain perihnya terpuruk disini. Hujatan demi hujatan datang silih berganti cercaan dan caci maki terus menghujam tiada henti seolah olah kampus kami adalah bulanbulanan tragedi berantai yang tak berujung.
Inilah sepenggal kisah perih dari kampus STAI yang malang. Yang selalu jadi momok dan di pandang sebelah mata bagi orang-orang yang membencinya.
Tetapi.....haruskah kita diam menatap bisingnya mulut para..........
Dan masihka kita diam mendengar desisan ular ular berbisa yang....................
Untukmu wahai para generasi penerus STAI jangan biarkan mulut ember......... itu terus berceloteh dan mengekanmu dalam ketidakberdayaan. Jangan biarkan bisa ularular itu meracuni hati dan fikiranmu.
Bangkitlah....bangkitlah....
ayo bangkitlah....wahai....para generasi yang tangguh teriakkan pada mereka takkan tersiakan kucuran darah keringat dan air mata itu.
Bisikkan pada mereka panji-panji kemenangan akan tetap berkibar dikampus STAI dan katakan pada mereka STAI tidak akan pernah hilang dan akan selalu menjadi kampus terbaik di hati kita.



Sajak oleh :
Andi Tenri
Mahasiswa semester awal STAI DDI Pangkep


“Rubrik apa saja yang ada di buletin ilalang : Bengkel Redaksi merupakan cuap-cuap dan refleksi kegiatan yang telah di laksanakan oleh UKM SENI ilalang serta kumpulan terima kasih dan harapan-harapan. Corat-Coret merupakan catatan lepas dari sudut pandang mana saja dan terserah mau bercerita tentang apa saja asal bisa dipertanggung jawabkan. Catatan Harian adalah kolom yang dipersiapkan atas kesaksian terhadap realitas yang dijumpai di Kab. Pangkep. Dan Lain Sebagainya merupakan campur sari tentang apa saja yang wajib untuk ditampilkan agar diketahui. Sekedar Info tentu saja berupa sajian informasi tentang kegiatan yang akan dilaksanakan atau berupa space iklan”

salam lebaran................. redaksi sengaja memberi lemabaran yang kosong kepada pembaca untuk di tulisi ucapan selamat lebaran kepada orang yang anda kasihi.....
buat : ...........................



dari : ........................................

Tidak ada komentar:

Posting Komentar