.......bengkel redaksi
Tahun-tahun yang telah lalu meninggalkan ragam makna dalam menjalani hidup ini. Semua kesaksian telah rangkum dalam buku catatan harian dan dalam benak tiap manusia yang peduli pada hari-harinya. Kita harus mengakumulasi semua kemenangan-kemenangan kecil disepanjang tahun 2009 yang akan usai, terserah kemudian kalau kemenangan itu betul-betul kecil yang penting tak lagi membuat kita labil menjalani hidup di tahun 2010 yang akan datang.
Disepanjang jalan yang ramai ini kita akan selalu berkelahi dengan hingar bingar waktu, kejar-kejaran dengan sinar matahari, dan terkadang kita jatuh bangun dipersimpangan jalan, atau yang paling seksi dalam kehidupan mahasiswa, yakni menyebar mimpi-mimpi yang bersamaan dengan menyebar utang-utang rokok. Tapi hal ini mungkin subyektif saja, namun kami meyakini kalau hal itu pernah kita lakukan.
Sampai saat edisi ketiga ini kami konsep, sebagian utang rokok kami belum rampung semua. Sebenarnya ada banyak hal yang membuat itu tertunda. Tapi yang mendasar adalah, karena sebagian isi dompet kami yang tidak seberapa itu dikuras habis untuk membiayai dua edisi buletin sebelumnya. Dan hal itu membuat kami bangga sebangga-bangganya dengan mengumpulkan sejumlah alasan-alasannya. Mungkin pula hal yang kami lakukan sama dengan sebagian teman-teman yang menguras isi dompetnya untuk sebuah skripsi. Tapi apakah mereka bangga dengan itu? Entahlah...!
Tepat pada pukul 23:21 kami hampir berada pada sebuah kondisi yang ngantuk berat, kopi sudah habis dan rokok sisa sekali isap saja sebelum menjadi puntung. Tapi edisi ke tiga ini belum juga rampung. Lalu kami punya keinginan untuk berdoa agar Tuhan memberi mukjizat, namun akumulasi kesadaran kami mengingatkan kalau kami sama sekali tak punya hak untuk memerintah Tuhan. Jadinya kami berusaha saja melawan kantuk dan dinginnya malam.
Sampai disitu kami hanya teringat cerpennya LeoTolstoy kalau Tuhan itu maha tahu akan tetapi terkadang menunda. Ya, Tuhan memang tak pernah tertidur pulas dan kamipun meyakini kalau usaha ini disaksikan oleh Tuhan. Selanjutnya tembang-tembang lawas Iwan Falls menemani kami sepanjang malam, kalau kita harus selalu siap menjawab waktu dan bukan waktu yang akan menjawab rencana-rencana kita.
Sudah cukup keterbatasan ini, sudah cukup kekurangan ini, sudah tuntas peta ini, sudah siap bekal ini, sudah rampung rencana ini, sudah usai kesedihan ini, sudah lengkap ketidakadilan ini, sudah jenuh kesaksian ini, sudah siap solusi ini.
Dan selanjutnya mari kita berangkat ke tahun 2010 dengan segala kesiapan yang sudah direncanakan dengan matang. Bersiaplah karena segalanya bisa berubah di tengah perjalanan yang kejam ini.
Ayo berangkat ..........terserah mau naik apa, yang jelas harus sampai pada tujuan yang akan anda tempuh. Bagi yang tidak cukup bekal, diperjalanan boleh singgah mencari nafkah, asal tidak mencuri atau merugikan orang lain.,,,,,,,,,,,,,
buletin ilalang:adalah salah satu proyek kerja dari UKM SENI ilalang STAI DDI Pangkep dalam bidang dokumentasi dan penulisan. dan sebagai jendela informasi tentang seputar kegiatan. Sekaligus di maksudkan sebagai wadah bagi teman-teman dalam menuliskan sejumlah eksperimen kepenulisan agar tercipta model baru dalam menuliskan kesaksian. Dan juga merupakan program bahan bacaan gratis yang bisa di jumpai di warung-warung kopi, perpus daerah, sekolah dan di kampus. Redaksi menerima sumbang tulisan dari mana saja berupa, Cerpen, Puisi, Catatan Harian, Artikel, Essai, Foto dan Karikatur. Bagi yang berminat bisa menghubungi langsung ke : 085 244 151 755 (F.Daus AR) / 081 355 846 303 (Pio AN) / 085 298 269 515 (Kamal N). Atau kirim ke Email ilalangddipangkep@yahoo.co.id. Karya yang di muat tidak akan mendapatkan honor apa pun. Kami hanya meyakinkan kalau karya anda merupakan yang terbaik dari yang tidak baik-baik. Thats All, Key....!
..............Corat-Coret
Catatan Kuliah, Makalah, dan Skripsi
(Catatan Harian yang Jujur Seorang Mahasiswa yang akan di Wisuda)
Kami masih mengingat betul ketika pertama kali menginjakkan kaki di kampus ini, senyum lebar para dosen menyambut kami bersamaan teriknya mentari pagi, dan didalam tas kami sudah siap berkas formulir yang akan dikembalikan dengan sejumlah uang pembayaran hasil usaha orang tua kami mengutang pada tetangga. Kami tentu saja bahagia karena yakin dari kampus inilah takdir hidup kami yang baru akan dimulai. Selanjutnya kami berkenalan dengan calon mahasiswa lainnya yang kurang lebih mirip dengan mimpi-mimpi kami, menyelesaikan study lalu mencari kerja agar kami tak lagi meminta uang pada orang tua.
Pada semester awal kami semua antusias mengikuti perkuliahan dan menghiasi buku catatan kami dengan sejumlah mata kuliah yang kami anggap berguna dalam merubah takdir hidup kami, dan perlahan kami sudah mulai memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi dan tak lagi minder dengan orang-orang disekitar lingkungan kami. Singkatnya kami bangga kuliah di kampus ini.
Enam bulan berlalu, dan kini kami duduk di semester dua. Tentu saja banyak perubahan yang kami peroleh terutama kemampuan kami dalam bercerita, karena presentasi sejumlah makalah yang kami lakukan ternyata merupakan latihan untuk berbicara dihadapan orang banyak. Dan terkadang kami seperti seorang penulis yang handal sehingga setiap tugas makalah yang diberikan oleh dosen dapat kami kerjakan dengan sangat cepat.
Hari demi hari kami lalui bersamaan dengan makin akrabnya kami dengan Dg. Hala, seorang warga yang mengelola warung makan yang tak jauh dari area kampus kami, disanalah kami selalu makan dengan lahapnya layaknya di rumah sendiri. Bahkan kami sudah menganggap kalau warung makan Dg. Hala merupakan kampus kedua kami.
Hari terus bergulir dan selanjutnya kami sudah semester tujuh lalu sebentar lagi akan mengikuti KKLP, tapi sedikit kami disibukkan dengan perkenalan beberapa orang yang menurut pihak lembaga “mahasiswa konversi” dan mereka juga bakal ikut serta dalam KKLP tahun ini. Dan kamipun memberi persepsi yang beragam terkait mahasiswa konversi ini, ada yang beranggapan kalau kampus ini baik karena banyak mahasiswa yang pindah dari kampus lamanya, ada juga yang beranggapan kalau kepindahan mereka karena pihak kampus ini menerima siapa saja asal tunduk pada aturan administrasinya (ada uang dan ada keluarga). Dan ragam-ragam pendapat lainnya.
Senang rasanya bisa melalui segala rintangan selama empat tahun kuliah di kampus ini dan termasuk saat kami KKLP yang terbagi kedalam beberapa posko baik di pulau maupun daerah pegunungan. Selama KKLP itu kami serasa bersaudara dan tinggal di satu atap selama dua bulan lamanya, merancang program kerja serta berbagi suka dan duka.
Sampai akhirnya kami pamit pada kepala Desa, tuan rumah yang kami tempati dan tak terkecuali kepada masyarakat setempat. Tentu saja ada tawa becampur tangis ketika hendak mengemas barang-barang kami dan bersiap pulang kerumah dan kekampus ini untuk selanjutnya melaporkan hasil KKLP dan akan menyusun sebuah tugas akhir bernama skripsi setebal kurang lebih 60 halaman.
Ya, usai sudah tahap perjalanan S1 ini. Semoga kami tidak termasuk kedalam golongan sarjana yang di ejek oleh Iwan Falls dalam lagunya “Kisah Kawanku Punya Teman”. Yakni, Sarjana yang membeli skripsi di pasar loakan.
“.....anda boleh bersekolah setinggi-tingginya, tetapi kalau anda tidak berkarya. Maka anda akan hilang dari sejarah dan masyarakat....”
“Pramoedya Ananta Toer”
Oleh,
F. Daus AR
Sebenranya bukan siapa-siapa
............Catatan Harian
Menggagas Kurikulum Berbasis Lokal
di Kabupaten Pangkep
Jika ada yang menganggap globalisasi merupakan solusi buat negara dunia ketiga maka kepekaannya patut dipertanyakan. Sebagaimana dengan sejumlah diskursus teori ilmu sosial lainnya yang mengerucut kebeberapa wilayah, termasuk kedalam dunia pendidikan.
Jika kita mau teliti terhadap teori-teori ilmu pendidikan, maka kita akan menemukan sejumlah kontradiksi yang terkait dengan praktik dan dampaknya di masyarakat, karena setiap teori bukanlah sesuatu yang bebas nilai. Dan bila menelisik jauh kedalam dasar filosofinya tentunya kita akan terheran-heran mem-bacanya.
Pada umumnya teori pendidikan yang di adopsi dewasa ini bukanlah yang berakar pada kultur masyarakat, karena konsep pendidikan modern merupakan penghapus terhadap pola hidup dan tingkah laku masyarakat yang sudah berakar sejak dulu.
Bincang-bincang yang tidak sengaja dengan salah seorang kerabat yang mengajar disalah satu sekolah dasar di daerah pegunungan mengatakan kalau tingkah laku muridnya sangat susah untuk diatur dan menganggap rendah cita-citanya yang hanya bangga untuk menjadi seorang petani. Artinya bahwa ada kesenjangan pahaman dari sang guru yang selama ini di didik dari konsep pendidikan modern, dan setelah menjadi guru maka konsep yang moderen itu pun hendak ia terapkan pada tempatnya mengajar. Jadi pertentangan tidak bisa dihindari.
Kita tahu bahwa budaya suatu komunitas tidaklah lahir dalam sekejap saja, tapi itu hasil persinggungan dengan lingkungan, alam, dan tuhan (baca : kosmologis). Masyarakat yang hidup di suatu wilayah dengan segala konsep hidupnya yang mungkin saja berbeda dengan komunitas lainnya, itu mestilah dihargai. Karena ketika anak-anak mereka yang kemudian bersekolah lalu menemukan sejumlah hal-hal baru yang selama ini mereka tidak temukan di lingkungan mereka. Maka tentunya hal itu di anggap sebagai sebuah sampingan saja. Maksudnya, hal-hal yang mereka dapatkan dari sekolah belum bisa ia terka untuk kehidupan sehari-harinya. Karena kenyataan yang dijumpai dalam dunia belajar di sekolah, mereka tidak menemukannya dalam dunia belajar di lingkungannya. Kebiasaan orang tua mereka yang hanya bertani agar bisa bertahan hidup menjadi sebuah teladan dibanding kegiatannya di sekolah yang hanya duduk, mencatat, dan mendengarkan guru-guru mereka berbicara.
Sekali lagi. Dalam dunia sekolah, mereka tidak menemukan pengalaman bersama yang nyata dalam kebutuhan hidup mereka. Hingga jika mereka ditanya akan cita-citanya, maka dengan bangganya mereka pasti menjawab akan menjadi seorang petani saja. Karena tindakan seorang petani merupakan tindakan nyata dalam mempertahankan hidup. Dan hal itu wajar serta patut dihargai.
Semua mesti di apresiasi dengan proporsional karena dunia anak-anak adalah dunia dimana mereka akan menerka segala kemungkinan untuk menjawab mimpinya. Dan didataran Cina sana ada sebuah cerita yang begitu melegenda tentang seorang kakek tua yang ingin memindahkan sebuah gunung besar. Hal itu menjadi tertawaan bagi sebagian orang yang tak kunjung memahami logika sang kakek tua itu. Padahal alasan filosofis sang kakek tua tersebut mustahil untuk dibantahkan karena gunung besar itu tentu tidak tumbuh menjadi semakin besar, dan jika tiap hari batunya dipindahkan maka gunung itu tentulah akan habis. Sebagaimana gunung yang terus di eksplorasi oleh PT. Semen Tonasa.
Jadi mimpilah yang menggerakkan peradaban umat manusia sampai hari ini. Dan anak gunung yang bercita-cita ingin jadi seorang petani itu tentulah selangkah lebih revolusioner dibanding sebagian anak sebayanya.
Dalam kajian yang tidak “ilmiah” dalam dunia pendidikan baik secara nasional maupun lokalitas di Kab. Pangkep ini, menyimpulkan kalau bangunan gedung yang mewah hanyalah seperangkat alat saja. Subtansi yang harus di bangun dalam benak anak didik dalam semua tingkatan pendidikan adalah pengenalannya dengan sejarah lingkungan di mana ia pernah lahir, besar dan berkembang. Namun hal itu di kebiri dalam kurikulum nasional yang disama ratakan di seluruh wilayah indonesia. Mulai dari tata cara belajar membaca hingga kekerasan ingatan dalam pelajaran sejarah.
Kita hampir tidak pernah tahu sejarah lokal di Kab. Pangkep yang kita huni ini, yang kita tahu hanyalah. Kapan lagi pilkada akan di gelar, yang kita tahu sebatas nama-nama yang akan ikut dalam arisan pemilihan, yang kita tahu kalau di PIS tempatnya minum sara’ba, dan yang kita tahu kalau di televisi ada sejumlah sinetron.
Kemudian anak sekolah hanya tahu kalau jadwal sekolah dimulai pada hari senin sampai hari sabtu, dan mereka harus memakai seragam serta mengikuti upacara bendera tiap hari senin, sekaligus mereka tak pernah tahu kalau dari mana orang tua mereka memperoleh uang untuk uang jajan dan ongkos serta untuk membeli buku pelajaran. Mereka tahu kalau ada PR maka harus di kerjakan, tapi sekaligus mereka tak pernah tahu apa fungsi sosial dari pengerjaan PR itu, dan apakah berguna dan bisa menjawab tantangan hidup mereka nanti bila sudah selesai.
Lalu anak-anak SD di kota ini jauh lebih tahu nama-nama tokoh dalam serial kartun Naruto di banding nama-nama pahlawan lokal yang pernah membangun kota pangkep di masa lalu. Dan dari pelajaran sejarah mereka tahu kalau Sultan Hasanuddin itu merupakan tokoh protagonis dan Arung Palakka (hanya sebatas itu) merupakan tokoh antagonisnya. Hal ini tak terkecuali bagi anak-anak SLTP dan SMU di kota yang di kenal dengan tiga dimensinya ini. Mereka harus mengingat nama Gajah Mada bila menjelang ulangan. Dan mereka tak perlu mengingat kalau di Pangkep ini pernah ada kerajaan Siang yang di sebut-sebut sebagai kerajaan terbesar di bagian barat pesisir Sulawesi (Pelras : 1986). Atau mereka tak perlu tahu kalau di Pangkep ini hidup penghulu Puan Matoa Bissu Saidi yang telah berkeliling dunia mengawal pementasan La Galigo yang di sutradarai oleh orang Amerika itu.
Sangat diperlukan kesadaran bersama untuk menerapkan kurikulum berbasis lokal di Kabupaten Pangkep ini, utamanya pemerintah dan semua pihak tanpa terkucuali. Bahwa meng”Pangkep”kan kembali masyarakat Pangkep memanglah tidak semudah dengan ketangkasan tangan para pesulap di acara “The Master” itu. Tapi paling tidak kita sudah bermimpi akan hal itu.
Kekhawatirannya tidak main-main, bila kemudian anak-anak zaman do kota ini betul-betul lupa akan sejarah lokal, maka sejarah baru hasil rancangan globalisasi akan merubah sepenuhnya. Dan manusia-manusia yang berdialektika di kota ini akan terasing dengan sendirinya.
Langkah sederhana bisa kita mulai pada diri sendiri, pada kerabat, pada saudara, pada sepupu, dan pada siapa saja. Sebelum merancang sebuah modul dalam rembuk bersama pemerintah, LSM, Tokoh Masyarakat, Guru dan Dosen, serta masyarakat itu sendiri. Agar kemudian bisa diterapkan dalam kurikulum pendidikan berbasis lokal.
Oleh,
F. Daus AR
Sekarang lagi berusaha memahami cerita rakyat “Nenekpakande”
............Dan Lain Sebagainya
Pluralisme dalam Timbangan
Sejarah agama-agama di dunia begitu penuh dengan kisah-kisah yang mengerikan tentang penyiksaan dan intoleransi. Di indonesia sendiri intoleransi terjadi pada agama yang berbeda maupun didalam agama yang sama. Pada konflik poso misalnya telah berhasil menjadikan agama sebagai jargon untuk melanggengkan intolenransi. Poso adalah konflik antar agama yang berbeda. Sedangkan konflik internal keagamaan semisal terjadi antara FPI dan jamaah Ahmadiyah.
Fenomena keragaman agama dan keragaman aliran kegamaan telah menyita pikiran para ilmuwan keagamaan untuk merumuskan sebuah konsepsi filosofis-teologis demi terciptanya harmonisasi dan ketenteraman sosial. Saat yang sama gelombang globalisasi yang terasa tak mampu terbendung lagi telah membuka ruang interaksi yang massif diantara berbagai unsur kebudayaan. Sehingga menutup diri terhadap pluralitas masyarakat hanya akan membuat kita berkembang satu dimensi. Pada ranah inilah pluralisme menjadi diskursus yang penting untuk kita diskusikan sama-sama. Sekelumit pertanyaan menggelantung pada diskursus ini. Adakah kemutlakan kebenaran? Diantara sekian banyak agama dan sekte keagamaan, manakah yang benar, ataukah seluruhnya benar? Apa gerangan yang menjadi tujuan Tuhan sehingga agama dan sekte yang beberbeda tetap eksis pada saat bersamaan? Apa itu beragama? Bahkan apa itu Islam? Seringkali pluralisme dimaknai sangat negatif. Hal ini disebabkan karena Pertama, Pluralisme sebagai kosa kata yang dianggap membawa hegemoni kebudayaan tertentu yakni kebudayaan barat. Pluralisme mendapat kecaman (sebagaimana istilah sekularisasi mendapat kecaman bertubi-tubi dari beberapa ulama Indonesia ketika pertama kali disuarakan oleh Nurcholis Majid) karena di anggap sebagai internalisasi nilai-nilai kebudayaan barat pada Islam. Kedua, pluralisme memiliki makna “rabaan” sebagai bentuk asimilasi atau pembenaran dan persamaan dari setiap kelompok agama. Persamaan ragam keagamaan akan mengakibatkan relatifitas kebenaran setiap agama yang diasumsikan oleh setiap pemeluk agama memiliki kemutlakan.
Pluralisme memiliki banyak wajah, menurut Musa Kazhim yang mencuat antara lain: Pertama, pluralisme moral, berbentuk ajakan untuk menyebarkan toleransi antar penganut agama. Kedua, pluralisme religius soteriologi (soteriological religous pluralisme). Keyakinan bahwa ajaran non kristen misalnya juga bisa mendapatkan keselamatan kristiani. Mula-mula ini diperkenalkan oleh John Hick. Sebuah klaim keselamatan bahwa pemeluk agama lain juga mendapatkan keselamatan. Ketiga, pluralisme religius epistemologis. Bahwa agama dunia memiliki kedudukan yang sama dalam pentas sejarah untuk menemukan justifikasinya. Sebagaimana keagamaan kita pada umumnya terbangun dari kesimpulan-kesimpulan yang di bangun oleh sejarah. Keyakinan keberagamaan seseorang mewakili periode sejarah dan aliran pemikiran tertentu. Keislaman di Indonesia misalnya sangat organisasional. Keempat, pluralisme religius aletis yang menganggap, walaupun ada fakta bahwa setiap agama memberikan jalan-jalan yang berbeda namun itu semua benar jika ditinjau dari pandangan dunianya masing-masing. Dan yang Kelima, pluralisme religius deontis berkaitan dengan kehendak dan perintah Tuhan.
Sejarah keagamaan dilihat sebagai kehendak Tuhan untuk menyempurnakan wahyu-Nya. Jika islam dianggap sebagai agama terakhir monoteisme maka kebenaran seluruh ajaran Tuhan berada pada pilihan Islam.
Dikalangan cendekiawan Islam sendiri (sebagaimana agama-agama lainnya) berkembang pro-kontra tentang pluralisme terkhusus klaim keselamatan pada keragaman agama. Ada beberapa ayat yang diasumsikan menjadi landasan kuat pluralisme dan memungkinkan ruang keselamatan bagi agama diluar Islam. Dalam QS. 2:6 yang diulang dengan redaksi yang berbeda pada QS. 5:69 dan QS. 22:17. QS.2: 6 kerap kali “dipertengtangkan” dengan QS. 3: 85 yang telah memansukhnya.
Paradoksal pemaknaan Al-Qur’an tentu bukan karena Al-Qur’an itu sendiri bertentangan tetapi upaya memahamilah yang harus holistik. Perdebatan lebih jauh tentang ayat QS. 3:85 oleh kaum pluralis haruslah dikembalikan pada pemaknaan “Islam”. Islam dalam QS. 3:85 adalah universal bukan Islam dalam pemaknaan hanya agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw sebab Islam juga telah dilekatkan pada agama-agama terdahulu semisal pada QS. 2: 131-132.
Terlepas dari pro-konta diatas (selayaknya kembalikan pada ahlinya) yang pastinya agama bukan untuk Tuhan tetapi untuk Manusia
Pembelaan terhadap agama adalah pembelaan nilai-nilai bukan simbol-simbol dan kanalisisasi keanggotaan.`Keselamatan bukan dari angan-angan tetapi tindakan nyata (amal saleh) (QS. 4:123). Pluralitas telah menjadi hukum Tuhan sedangkan perbedaan adalah tugas Tuhan untuk menyelesaikannya bukan oleh manusia dengan cara apapun (QS. 5:48). Jika kita bertanya kepada agama-agama yang berbeda maka ada kesamaan antara Islam dengan agama-agama lainnya sebagaimana QS. 29:46, QS. 29:61 dan QS. 43:87.
Kekafiran terasa kurang tepat jika dengan serta merta dilekatkan kepada semua orang diluar Islam dan kafir tidak serta merta memiliki konsekuensi tidak selamat, untuk menyelaesaikan ini kita harus mempertimbangkan 3 hal: pertama, secara persis kepada siapa ancaman “kafir” itu dianjurkan; kedua, dalam situasi seperti apa ayat “kafir” dturunkan dan ketiga, apakah itu mesti dijalankan?. Sebagaimana menurut Dr. muhammad Legenhausen setelah pengkajian terhadap teks Al-Qur’an semisal di QS. 10:4 dan QS. 4: 115.
Ancaman siksa tidaklah secara khusus diturunkan kepada kaum kafir tetapi kepada manusia secara umum. Makna harfiah dari kekafiran (kufr) adalah menutupi. Orang kafir adalah ia yang mencari perisai atau menutupi dirinya sendiri dari kebenaran. Kekafiran bukanlah kondisi pasif yang berlaku kepada semua orang yang tidak memperoleh keyakinan yang benar tentang islam. Justru sebaliknya, kekafiran adalah oposisi batin yang aktif yang mengahalangi seseorang dari menerima bimbingan Ilahi. Demikian ungkap Dr. Muhammad Legenhausen.
Jika ditarik pada makna yang lebih luas maka definisi dan penjelasan diatas bisa juga berarti bahwa keselamatan itu akan kita raih jika telah melepaskan subektifitas atau fanatisme-fanatisme ketika berdialog dengan saudara yang berbeda dan dalam mencari kebenaran. Sebagai penutup dari tulisan awal ini. Jika ada titik persamaan buat apa membesarkan perbedaan yang hanya akan mengakibatkan intoleransi dan disharmonisasi.
Oleh,
M.R. Ramez
Lahir di Labakkang, dan kini sedang berusaha untuk keluar dari UIN Makassar
Selamat tahun baru Hijryah dan menjelang tahun baru Masehi.....
Berjalannya usia merupakan suatu hal yang wajib, dan bukan merupakan kategori takdir yang bisa di hindari, olehnya itu umur tua bukanlah sesuatu yang menakutkan, meski terkadang kenaifan logika kita menghendakinya untuk bertahan pada suatu kisah yang bahagia. Tapi sebenarnya semua akan usai sesuai dengan batas-batas yang telah terbataskan. Jika kita senang dengan secuil peristiwa di tahun-tahun yang lalu, hendaknyalah kita mengulanginya meski dengan orang-orang yang berbeda dengan situasi yang berbeda pula. Karena kosa kata “HIDUP” merupakan kata kerja yang harus selalu bergerak sesempit apapun ruangnya, dan kertas sejarah masih banyak yang kosong untuk kita tulisi dengan cerita-cerita yang indah agar kelak kita di ingat dengan senyum yang manis . Semoga......

Tidak ada komentar:
Posting Komentar