...........bengkel redaksi
Matahari pagi sepertinya tak pernah alpa membangunkan kami dikamar sekretariat. Mungkin inilah salah satu sejarah buat kami semua dapat terbangun diawal pagi. Padahal sebelumnya, bangun pada jam sepuluh keatas sudah merupakan waktu yang paling cepat buat kami semua.
Kejadian itu terjadi disaat kami melaksanakan kegiatan Quantum Learning tingkat SMU Se-Kab. Pangkep pada tanggal 13 sampai dengan 15 Februari 2010 yang lalu. Setelah itu, rasa senang dan capek menggerogoti benak kami, sehingga perlu untuk refresing ke Palopo makan Durian, Rambutan dan Langsat.
Lalu pada tanggal 12 Maret kemarin muncul inisiatif untuk melanjutkan kegiatan per-kampungan kreatifitas pelajar, dan terbentuklah kepanitiaan dengan membuat bazar dana sebagai salah satu tahapan awal dalam pengumpulan dana.
Padatnya jadwal antara kuliah dan jadwal pribadi hingga membuat kami alpa dalam menerbitkan edisi untuk bulan Februari dan Maret, dan barulah saat ini kami kembali muncul setelah punya waktu luang untuk menuliskan kesaksian-kesaksian dalam edisi April ini.
Sedikit bersyukur karena kekhawatiran akan tidak adanya generasi yang mau mengambil resiko dengan ragam Pengorbanan yang dilakukan akhirnya muncul satu-satu dari perginya satu-satu penggerak organisasi. Harmoni akan terpelihara jika tidak ada gangguan internal yang mengacaukan gerak teman-teman yang ikhlas bekerja tanpa ada yang mau berwatak tikus, seperti yang terjadi pada tahun 2009.
Munculnya kesadaran tahu diri, dan tidak adanya percontohan untuk berbuat licik yang mempengaruhi anak-anak penghuni sekret saat ini, adalah sebuah indikasi akan terangngya dan semakin eksisnya lembaga kemahasiswaan STAI DDI Pangkep kedepan. Tinggal perlu penguatan wacana pada teman-teman agar lebih mampu dan mandiri lagi dalam mengkonsep sebuah kegiatan sampai pada wilayah teknisnya yakni, pembuatan proposal, persuratan, dan termasuk melanjutkan kegiatan tahunan kampung kreatifitas pelajar dan merawat buletin ilalang ini).
Yang pastinya rintangan dan godaan pasti ada, olehnya itu kita wajib memiliki cinta dalam setiap aktifitas dan menjalankan gerak organisasi karena bila tidak, maka kita akan sengsara dan perlahan tersingkirkan dengan sendirinya.
Terakhir ada potongan lagu dari Iwan Falls,
”......telah datang hari baru, bintang-bintang anak zaman. Telah datang perubahan bintang-bintang anak zaman......”
buletin ilalang: Adalah salah satu proyek kerja dari UKM SENI ilalang STAI DDI Pangkep dalam bidang dokumentasi dan penulisan. dan sebagai jendela informasi tentang seputar kegiatan. Sekaligus dimaksudkan sebagai wadah bagi teman-teman dalam menuliskan sejumlah eksperimen kepenulisan agar tercipta model baru dalam menuliskan kesaksian. Dan juga merupakan program bahan bacaan gratis yang bisa dijumpai di warung-warung kopi, perpus daerah, sekolah dan di kampus. Redaksi menerima sumbang tulisan dari mana saja berupa, Cerpen, Puisi, Catatan Harian, Artikel, Essai, Foto dan Karikatur. Bagi yang berminat bisa menghubungi langsung ke : 085 244 151 755 (F.Daus AR) / 081 355 846 303 (Pio AN). Atau kirim ke email dausfir29@yahoo.com. Karya yang dimuat tidak akan mendapatkan honor apa pun. Kami hanya meyakinkan kalau karya anda merupakan yang terbaik dari yang tidak baik-baik. Thats All, Key....!
............corat-coret
Catatan Pinggir buat Penghuni Sekret
Jika tidak salah, ada lima lembar sarung yang jarang dicuci tapi tetap berfungsi sebagai layaknya sarung yang sering kita pakai dirumah. Ada dua lembar tikar yang juga jarang dicuci, tapi itu seperti sebuah springbed bagi penghuni sekret. Ada satu buah unit komputer yang sudah semakin payah karena virus. Dan satu buah televisi yang sudah rusak. Sehingga penghuni sekret terkadang mengangkat televisi milik lembaga untuk dijadikan teman begadang.
Di sekret itulah terjadi sebuah gagasan-gagasan yang positif maupun yang negatif, tergantung siapa yang menghuninya barang semalam atau sebulan.
Zul salah satu penghuni sekret generasi ketujuh memilih tinggal disana dikarenakan alasan ekonomis, yakni rumahnya lumayan jauh dari kampus. Dan alasan yang sama diberikan oleh Ady, Nasrullah, Belalang, Yuhar, Agus, dan Meong serta penghuni lainnya. meski belakangan Meong lebih sering menginap dirumahnya Akbar.
Sejak mereka-mereka yang disebutkan di atas tinggal di sekret. Sedikit banyaknya ada perubahan yang bisa disaksikan. Yakni kebersihan sekret terjaga dari debu jasmani. (ruangan lumayan bersih karena anak-anak rajin membersihkan) tapi kurang tahu kalau dari segi debu rohaninya. Karena Sul selalu saja tertawa lebar bila ditanyakan hal yang demikian. Secara sosiologis, betah tidaknya anak-anak tinggal disuatu sekretariat organisasi ditandakan dengan adanya kebebasan dalam beraktifitas, tidak ada aturan seperti harus bangun tepat waktu, tidak boleh begadang hingga larut malam, dan lain sebagainya layaknya tinggal di rumah di bawah pengawasan orang tua. Dan disekretlah impian kebebasan untuk bertindak sesuka hati tersalurkan. Terkait tidak adanya sarapan pagi dan jadwal makan tepat waktu bukan jadi soal yang harus di jawab secepat mungkin. Intinya ada pada kebersamaan dalam melupakan sejumlah keresahan yang mungkin ada pada diri setiap penghuni sekret.
Penguasaan terhadap sekret memiliki ragam makna, bisa dikatakan sebagai bentuk kudeta pasif dari pemilik sah sekret tersebut yang notabene dialamatkan pada pimpinan lembaga mahasiswa. Bisa juga sebagai bentuk hegemoni dalam satu sarung, dimana yang tidak bisa berbuat akan terpinggirkan dengan sendidirnya atau berusaha untuk selalu memasang topeng yang pas dengan kondisi yang lagi berkembang disekret. Tapi bila penghuni sekret yang dominan sekarang memotong garis hirarkis, maka sekret bisa berfungsi layaknya taman kota atau warung, yakni siapa saja berhak untuk memanfaatkannya baik sekedar untuk baring-baring, menonton televisi, atau menggunakan fasilitas yang ada.
Fungsi sekret memang seharusnya egaliter dan diperuntukkan bagi semua, baik yang aktif pada lembaga kemahasiswaan maupun yang tidak. karena kembali kesekret adalah kembali untuk merdeka dalam batas-batas yang bisa dijangkau. Hal ini dilihat kalau yang memilih tinggal disekret adalah suatu pilihan untuk merayakan keanekaragaman dari semua penghuninya dalam segala hal, ada yang pragmatis, idealis, tapi semua bisa terdeteksi seiring waktu yang diselimuti siang dan malam, masing-masing penghuni akan menarik kesimpulan untuk mengenal karakter penghuni sekret, kalau si “A” begini, dan si “B” begitu.
Sekali lagi, sekret adalah suatu tempat yang berfungsi sebagai mikroskop untuk melihat hal-hal terkecil penghuninya, disanalah ada dusta, kejujuran, cinta, dan solidaritas. Dan dalam kesaksian pergantian siang dan malam, semua tercatat dalam labirin sudut kesunyian yang akan muncul satu persatu, cepat atau lambat.
Oleh,
F. Daus AR
Pernah nginap di Sekret
.......... dan lain sebagainya
Kampus STAI.......menurut saya...........
Menurut saya, harus ada trobosan yang berani yang harus dilakukan oleh pihak lembaga, seperti membuka jurusan Filsafat, Keperawatan dan Teknik, hal ini dimaksudkan untuk menjawab tantangan masa depan...
(Nenek yang tinggal dibelakang Kampus)
Sya tidak mau panjang lebar, yg jelas kampus ini harus punya layanan HOTSPOT bagi mahasiswa,,,ini sudah merupakan harga mati....
(Sul, Penghuni Sekret, aktif di Mahaddipala)
Sudah sangat bagus, karena bisa diakses dari anak2 pulau yang mau melanjutkan studinya. Cuma pemberian sarana olahraga buat mahasiswa harus ada, seperti alat sepak bola, spya mereka bisa mengmbangkan bakatnya.
(Yuhar, Mahasiswa asal Pulau Karanrang)
Saya juga tdk mau panjang lebar, pokoknya diarea kampus ini harus disediakan rumput hijau yang banyak......
(Kuda Masyarakat setempat yang sering makan rumput dihalaman kampus)
Sebagai salah satu dosen dikampus STAI ini, saya melihat masih ada kekurangan yang harus dibenahi, utamanya soal WC dan Musollah yang belum kelar-kelar pengerjaanya padahal dananya sudah ada,,,saya juga heran..
(Ibu Marhana, Dosen)
Setelah kemarin saya menghadap pak ketua, dan kami bicara panjang lebar, saya sampaikan sama beliau bahwa STAI ini membutuhkan sebuah mobil operasional, satu Bus dan satu mobil open kap, dan beliau spakat sekali,, jadi mudah2han kedepan, kita sudah memliki dua buah mobil operasional......
(Tedong, aktif di Mahaddipala)
Kalau dalam analisis sy pribadi ya,,! STAI ini mrupakan aset yang sangat berharga terkait soal persiapan SDM lokal. Jadi pihak lembaga harus berani membuat suatu gebrakan terkait perkembangan wacana mahasiswa.
(Ipo, Mahasiswa Baru)
Menurut saya begini, STAI harus membangun asrama buat anak2 pegunungan, karena kedepan,pasti lebih banyak lagi anakpegunungan yang kuliah dikamapus ini.
(Uni, Mahasiswa asal pegununungan)
Kami berdua sependapat kalau program mendesak yang harus dilakukan kampus STAI ini adalah, pemberian subsidi silang bagi para aktivis kampus, yakni dengan memberi pembebasan SPP, atau pengurangan biaya SPP, alasannya adalah, kegiatan yg sering dilakukan oleh mahasiswa punya andil besar dalam sosialisasi kampus,,,
(Hasan dan Adi, Satunya mahasiswa semester akhir, satunya lagi baru Maba)
Sebagai alumni, STAI ini harus punya program pemberdayaan terhadap alumni, misalnya alumni yg belum punya tempat mengajar, harus dibukakan ruang, agar ilmunya dapat diaplikasikan.
(Suryani, tapi biasa di panggi Bebek)
Kalo menurut saya seh,,apa saja de,,! Yang penting semua senang.....
(Musi, Mahasiswa apatis)
Yang pastinya kampus ini harus punya fasilitas yang bisa membuat mahasiswanya nyaman, seperti Musollah dan sarana air bersih.....
(Syam, Mahasiswa Semester Tiga)
Dalam analisis saya, STAI ini harus mengucurkan anggaran yang jelas kepada lembaga mahasiswa, agar kegiatan berjalan lancar....
(Akbar, Wakil Ketua BEM STAI)
Intelektual Miring[1] dalam Lintasan Sejarah
Perkembangan Demokrasi di Indonesia
Ketika Soekarno diberi pilihan antara memilih Agama, Nasionalis, dan Komunis. Ia tidak memilih salah satunya, akan tetapi memilih ketiganya. Dan lahirlah dengan apa yang dinamakannya dengan sebutan “NASAKOM” akronim dari Nasionalisme, Agama dan Komunis. Apakah motif dari penggabungan dari ketiga ideologi tersebut. Ada banyak anggapan yang bisa kita pakai dalam menelaahnya. Pertama. Background pemikiran Soekarno ada pada ketiga ideologi tersebut. Ia belajar dari seorang cerdik cendekia bernama Hos Cokrominoto, dan Soekarno seangkaatan dengan Semaun dan Kartosuwiryo didalam berguru kepada Cokrominoto. Dan sebagaimana diketahui, Semaun ikut andil dalam pembentukan partai komunis indonesia (PKI) dan Kartosuwiryo kemudian membentuk Darud Islam Indonesia (DII). Yang mana antara Semaun dan Kartosuwiryo meletakan pemahamnnya pada wialyah yang fundamentalis. Semaun beraliran Marxis yang ortodoks yakni hanya menggunakan determinisme historis dalam gerakan PKI. Dan Kartosuwiryo juga terjebak pada pahaman keislaman yang dangkal, yakni bergerak dengan mengkampanyekan negara islam buat indonesia.
Soekarno yang dalam hal ini mengenyam pendidikan liberal ala Eropa, tidak mau terjebak kedalam fundamentalisme ideologi marxian dan islam. Karena dalam doktrin gurunya Hos Cokrominoto, ia mengenal kalau islam itu sangat egalitarian bahkan mirip-mirip sosialis. Dan Cokrominoto sendiri menulis buku berjudul “Sosialisme dalam Islam” hal ini tentu untuk mengegaskan kembali pemahamannya terhadap islam yang dilihatnya sebagai agama yang memandang semua harkat manusia dalam posisi yang sama dimuka bumi ini.
Apa yang dilakukan oleh Soekarno dalam perkembangan demokrasi pemikiran diawal-awal terbentuknya negara kesatuan ini. Tentunya merupakan sebentuk kreatifitas berfikir didalam merangkul semua ide para kaum cendekia didalam membangun republik. Namun hal itu tentu saja bukan suatu tindakan yang langsung tersepakati oleh semua kalangan. Ide Soekarno tersebut mendapat kecaman dari kaum fundamentalis islam sekelas Kartosuwiryo yang dalam gerilianya memproklamirkan negara islam indonesia. Bahkan perdebatan panjang yang abadi antara Soekarno Muh. Natsir tak terelakan.
Kedua. Motif penggabungan ketiga ide tersebut merupakan gagasan seorang Soekarno muda yang subyektif. Dalam catatan Frans Magnis Suseno, pada tahun 1926 Soekarno menulis tentang “Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme”. Artinya bahwa, penggabungan ketiga paham tersebut di saat ia menjadi seorang presiden adalah merupakan proyek intelektual seorang Soekarno yang dimasa mudanya mengenyam paham Islam dan Marxisme, dan pahaman nasionalisme adalah suatu gambaran untuk memetakan letak wilayah negara kesatuan yang pada saat itu masih dalam negosiaisi perjuangan.
Ketiga. Tentu saja kedekatan antara Soekarno dengan pimpinan partai komunis yakni D.N Aidit. Kedekatan ini merupakan imbas dari meluasnya pengaruh paham marxisme yang merasuki dunia ketiga sebagai suatu jawaban atas runtuhnya kolonialisme. Eforia kaum merah ini ditandai dengan kemenangan kaum bolsevik di Rusia dibawah revolusi rusia yang diarsiteki oleh Valdimir Ilich Lenin. Kemenangan kaum komunis untuk sementara dalam sindiran Goenawan Muhammad.
Efek Bola Salju
Dalam analisa Samuel P. Huntington proses demokrasi ditandai dengan sejarah pergolakan suatu negara, Italia pernah menjadi negara paling fasis didunia dibawah komando Mussolini sebagaimana dengan Jerman dengan arogansi Nazinya Hitler. Dan hal itu kemudian runtuh dalam gulungan sejarah dan kini menjadi warisan cerita horor manusia yang benar-benar pernah ada. Perkembangan itu kemudian berbalik dengan pendekatan teori efek bola salju[2]. Artinya bahwa, ada proses dialektika yang terjadi terus menerus dalam mencari bentuk-bentuk tata sistem suatu negara yang berdaulat.
Yang terjadi dengan ide Nasakomnya Soekarno sungguh diluar dugaan imajinasi idealitas politik. Karena yang terjadi adalah kekerasan politik dalam perebutan kekuasaan. Soekarno mungkin tidak mengira kalau “komunisme” bukanlah suatu aktualisasi paham marxian yang dibingkai dalam suatu partai yang bernama PKI (Partai Komunis Indonesia), secara landasan filosofis marxian bukanlah ideologi yang bisa menerima paham lain, dan aplikasinya dalam suatu tatanan kenegaraan ia menolak pluralisme demokrasi. Sebagai contohnya bisa dilihat pada alam kebebasan politik pasca revolusi Rusia. Dan dibawa Joshep Stalin, disana tidak boleh ada nada lain selain nada komunis. Dan bahkan suara sastra pun dilarang, sebgaimana yang dialamai oleh novelis Rusia Boris Pasternak dalam karyanya Dr. Zivago yang terkenal itu.
Akibat-akibat politik yang kemudian terjadi didalam percobaan suatu sistem kenegaraan memang bisa berakibat fatal. Hal itu dikarenakan dengan tidak matangnya suatu konsep yang hendak diterapkan. Benturan ide demokrasi dan perangkat-perangkatnya muncul kepermukaan setelah belum siapnya suprastruktur pada masyarakat. Sejarah mengingatkan kalau masyarakat kelas bawah indonesia di ibu kota pada saat pemerintahan Soekarno memang masih disibukkan dengan pemenuhan kebutuhan dasar. Ada hal yang tidak sinergis antara ide besar seorang Soekarno dengan kondisi riil masyarakat. Penyair Taufik Ismail merekam hal itu dalam potongan puisinya “Syair Orang Lapar”.
........lapar lautan pidato
Ranah dipanggang kemarau
Ketika berduyun mengemis
Kesinikan hatimu.............kuiris........[3]
Kesaksian seorang penyair terkadang lebih jujur dibanding kesaksian seorang sejarawan. Dan pada tahun 60-an gerakan protes intelektual perkotaan yang dalam hal ini para mahasiswa memang telah gencar dilakukan untuk meneriakan kata tidak sepakat dengan gaya kebijakan Presiden Soekarno. Ide Soekarno penuh dengan wawasan kebangsaan yang mendunia, sehingga sibuk berpidato dengan alokasi waktu sampai berjam-jam dihadapan khalayak. Dibanding menata tata ekonomi rakyat.
Lontaran gagasan “Neokelim” atau neo kolonialisme dialamatkan pada Malaysia sehingga perlu untuk diganyang. Dampaknya kemudian adalah tenaga negara difokuskan untuk suatu “invasi” ideologi terhadap sesama negara Asia Tenggara.
Dalam perjalanannya di bawah Soekarno, Indonesia dikenal dengan ide-ide dalam memangkas habis watak imprealisme disunia ketiga. Yang kemudian menjadi rujukan revolusi bagi negara-negara dunia ketiga lainnya. hanya saja bentuk ideal suatu pemerintahan yang tahan terhadap gilasan sejarah dan pergantian rezim tidak ada di negara kesatuan ini, dan masih jauh dari konteks yang membumi dalam meletakan pondasi sistem pemerintahan yang bisa diterima oleh seluruh wilayah kepulauan. Diusia ke-64 tahun saat ini, indonesia masih kerap mengeluarkan darah. Gerakan separatis (GAM, OPM, RMS) boleh saja saat ini tidak begitu besar lagi gaumnya, akan tetapi hal itu tentu menjadi bom waktu bagai eksistensi NKRI.
Mencuatnya terorisme dengan bentuk gerakan horisontal dengan pendekatan chaos. Haruslah dilihat sebagai bentuk-bentuk kekecewaan dalam segala hal, kalau masih ada kaum atau kelompok yang belum puas dengan tata kelola negara ini.
Merawat Indonesia dengan Intelektual Miring, Demokrasi ataukah ada Kemungkinan Baru
Jika Ho Chi Minh disebut sebagai bapak komunis Vietnam, Mao Tse Tung juga disebut bapak komunis Cina, dan Lenin pasti juga disebut sebagai bapak komunis Rusia. Hal itu disebabkan oleh karena ketiga tokoh tersebut memilih tegas dalam pahaman yang diyakininya sebagai sesuatu yang benar dan tak bisa dicampur baurkan oleh paham lainnya. jika diukur dengan garis maka ia tegak (vertikal) atau melintang (horisontal) dan tidak miring (antara mau tegak lurus dan melintang). Dan jika kita mau menetapkan suatu tokoh (bapak komunis) di indonesia tentu ragam perdebatan akan muncul dan tidak ada kesepakatan. Karena Hos Cokrominoto, Semaun, D.N Aidit, Tan Malaka, Soekarno, Hatta, bahkan Syahrir bisa masuk dalam nominasi.
Analogi intelektual miring adalah untuk menggambarkan ketegasan konsep dan ide suatu pimpinan dalam mengaktualkan kebijakan, Hitler yang fasis tidak masuk kedalam intelektual garis miring karena ia tegak pada paham Nazinya. Tapi ia tidak masuk kedalam intelektual organik dalam kerangka Gramscian karena ia tidak berfungsi bagi kaumnya. Dan Soekarno masuk kedalam intelektual miring dengan percobaan Nasakomnya, tapi ia termasuk kedalam golongan intelektual organik karena berfungsi bagi kaumnya.
Untuk merawat indonesia, meminjam analogi almahrum musikus Hary Roesli. Ibarat seorang manusia indonesia ini sudah tua dengan umurnya yang sudah kepala enam, jadi mestinya ia sudah henti untuk mengeluarkan darah. Dan tinggal duduk santai menikmati masa usianya yang sudah melewati onak dan duka. Tapi hal itu tidak terjadi, indonesia masih saja berdarah dengan segala bentuk konflik horisontal antar anak bangsa.
Sampai disini. Saya sepakat dengan Ali Syariati, intelektual muslim progersif, kalau demokrasi hanyalah suatu tahapan bagi proses pendewasaan masyarakat dalam ketatanegaraan. Selebihnya ada pada beberapa kemungkinan-kemungkinan baru yang bisa saja terjadi dari hasil dialektika perkembangan pahaman suatu masyarakat.
Sering dikatakan kalau kapitalisme merupakan jalan pertama bagi tatanan masyarakat,komunisme sebagai jalan kedua, sosialisme jalan ketiga, dan sosialisme religus sebagai retasan jalan keempat. Kesemuanya mengandung konsep demokrasi dalam kapasitasnya. Dan sudah diuji cobakan dalam pentas sejarah. Nah Kira-kira jalan-jalan baru apakah masih bisa muncul.?
***
Oleh,
F. Daus AR
Tukang editnya bulletin ilalang [1] Wacana “Miring” pertama kali diperkenalkan oleh Jakob Sumardjo dalam essainya di harian Kompas edisi Selasa tanggal 6 Mei 2005.
[2] Teori ini diperkenalkan oleh Samuel P.Huntington Profesor Politik Harvard. Di Indonesia dikenal denga bukunya “Benturan Peradaban”. Efek bola salju kurang lebih untuk menjelaskan timbal balik suatu keadaan yang dialami suatu negara. Jika dulunya fasis maka kedepan akan menuju pada pola demokrasi.
[3] Lengkapnya lihat buku kumpulan puisi Tirani dan Benteng karya Taufik Ismail, hal. 33 (Yayasan Ananda, Yogyakarta 1993.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar