Sabtu, 25 Juni 2011

Get Up With UKM SENI Ilalang STAI DDI Pangkep



..................Bengkel Redaksi

Jika boleh jujur, kami semua hampir tak pernah tertidur pulas saat menantikan pentas perdana kami yang sederhana di acara Halal bi Halal STAI DDI Pangkep pada tanggal 18 Okotober lalu.
Ada dua pementasan yang kami tampilkan dengan sangat spektakuler (paling tidak dalam pemaknaan kami sendiri). Pertama, Pentas Drama dengan judul naskah “Sepenggal Kisah dari Kerajaan DALAGUNG (Darat, Laut, dan Gunung)”. Kedua, pentas musik Acoustic dengan judul lagu “Prajurit Hati” yang di rangkai dengan musikalisasi puisi. Yang pastinya setelah pentas itu, semua personil tampak bahagia yang luar biasa karena pentas drama sempat disaksikan oleh Bupati Pangkep yang menjadi tamu utama pada acara itu. Setidaknya ada senyum lepas dari Bupati saat menyaksikan akting dari para pemain.
Dan selanjutnya di edisi perdana ini, kami ingin memperkenalkan diri secara langsung dan sengaja tidak muncul di lembaran Face Book karena sejauh ini dunia maya hanya sekedar membuat keberadaan kami secara bayang-bayang yang sulit untuk dipahami. Kemudian melalui edisi perdana ini pula kami hendak berterimah kasih sedalam- dalamnya dan sehormat-hormatnya kepada Ibu Marhana yang bersedia mengakomodir konsumsi selama latihan, meski itu sekedar makan di warung serba murah di Hala. Serta sejumlah pemain yang rela meluangkan waktu untuk latihan. Pio, Bebek, Ipo, Ida, Muis, Safar Ajudan, Tenri, Adi, Syamsudin, Ady (cafe merdeka), Dato, Daus, Ahyar, Kamal, Kasmin, Umrah N Friends, Kanda Dullah atas dokumentasinya. Dan seluruh personil paduan suara serta teman-teman lainnya tanpa terkecuali.
Dan di hari yang cerah ini kami sedikit berharap banyak dengan doa yang sederhana kalau kedepan buletin ilalang ini akan menghiasi rak-rak buku perpustakaan bersanding dengan tetralogi Novel Laskar Pelangi, memasuki tas-tas kuliah para mahasiswa dan pelajar, menjadi bacaan yang digemari oleh seluruh anak zaman, menjadi teman di kala menantikan sang pacar, menjadi teman di saat minum kopi, menjadi teman di saat jenuh dari rutinitas keseharian, menjadi teman di saat naik bentor, dan semoga menjadi referensi yang paradigmatik  dari kekeringan imajinasi dalam bergerak.
Karena kami percaya kekuatan imajinasi tak kalah hebatnya dengan letusan senjata dalam melumpuhkan kekuatan lawan.

buletin ilalang :adalah salah satu proyek kerja dari UKM SENI ilalang STAI DDI Pangkep dalam bidang dokumentasi dan penulisan. dan sebagai jendela informasi tentang seputar kegiatan. Sekaligus dimaksudkan sebagai wadah bagi teman-teman dalam menuliskan sejumlah eksperimen kepenulisan agar tercipta model baru dalam menuliskan kesaksian. Juga merupakan program bahan bacaan gratis yang bisa dijumpai di warung-warung kopi, perpus daerah, sekolah dan di kampus. Redaksi menerima sumbang tulisan dari mana saja berupa, Cerpen, Puisi, Catatan Harian, Artikel, Essai, Foto dan Karikatur. Bagi yang berminat bisa menghubungi  langsung ke : 085 244 151 755 (F.Daus AR) / 081 355 846 303 (Pio AN) / 085 298 269 515 (Kamal N).  Atau kirim ke Email: ilalangddipangkep@yahoo.co.id. Karya yang di muat tidak akan mendapatkan honor apa pun. Kami hanya meyakinkan kalau karya anda merupakan yang terbaik dari yang tidak baik-baik. Thats All, Key....!

.........................Corat-Coret

Kurang Lebih
Setengah Kilo dari Jalan Raya

Kira-kira seperti itulah jarak yang harus di tempuh bila hendak menjumpai sekumpulan ilalang yang tumbuh subur di musim penghujan, dan bila ingin menjumpai beberapa petak gedung dimana orang-orang mengenalnya sebagai kampus STAI DDI Pangkep. Karena dulunya di lokasi itu memang area persawahan masyarakat Baru-baru Utara, yang kemudian dibanguni gedung perkuliahan. Dan berdasarkan kesaksian sejarah para mahasiswa angkatan awal. Ilalang yang tumbuh di sana bahkan setinggi manusia dewasa, dan sampai sekarang pun masih tumbuh subur bila tidak segera di babat.
Dan kurang lebih setengah kilo dari jalan raya, di sana hidup pula sekumpulan orang-orang yang oleh masyarakat setempat mengenalnya sebagai mahasiswa STAI yang tinggal di kampus. Dan bila di sore hari ada suatu peristiwa di mana sulit untuk mem-bedakan antara mahasiswa dan pemuda setempat. Karena mereka melakoni sepak bola bersama dipelataran rumput hijau bekas tumbuh ilalang-ilalang besar itu. Kejadian seperti inilah yang menurut kami sangat sulit dijumpai di kampus manapun, adanya harmoni yang terus terpelihara sehingga membuat betah untuk berlama-lama di kampus. Termasuk berlama-lama menyelesaikan study. He....he.... becanda?. Tapi hal itu sungguh membahagiakan dan terlalu manis untuk dilupakan. Sebagaimana dalam lagunya Slank kalau hal-hal yang indah memang sulit untuk di lupakan.
Hampir tak pernah ada sekat yang dijumpai dalam pergaulan antara mahasiswa dan dosen bahkan dengan ketua lembaga sendiri (Rektor). Semua seakan seperti teman bercanda, menggunakan WC yang memang hanya satu dengan debit air yang selalu kekurangan, dan tak jarang diantara kami berusaha menahan buang air besar atau air kecil sembari melontarkan kejengkelan yang mendalam atas kurangngya fasilitas kampus. Tapi semua itu merupakan sejarah komunal bersama yang akan selalu diingat.
Karena segala sesuatu memiliki sebab akibat untuk kemudian menjadi ada. Maka sejarah tentu tak bisa lepas dari rangkaian tersebut, termasuk UKM SENI ilalang yang akan kami rawat ini. Memakai nama ilalang dikarenakan data sejarah yang sudah disebutkan tadi, yakni banyaknya ilalang yang tumbuh di lokasi kampus tempat kami merajut mimpi, serta dengan alasan filosofis yang kuat kalau ilalang merupakan tumbuhan sebangsa rumput yang dalam pepatah bugis merupakan simbol kekuatan dalam melawan segala tantangan zaman. Karena ia akan tetap bertahan meski di hempas hembusan angin kencang.
Kurang lebih setengah kilo dari jalan raya, adalah tempat dimana sebagian dari kami menemukan pujaan hati sehingga semakin meyakinkan kalau bukan hanya gelar kesarjanaan yang kami peroleh melainkan juga calon istri.
Dan kurang lebih setengah kilo dari jalan raya, adalah rumah singgah kami dan siapa saja yang ingin singgah menginap. (REDAKSI)


...................Catatan Harian

Sudut-Sudut Pangkep
Persfektif Kuliner
(Sejarah para Pedagang yang Membaca)

Di mulai dari bibir jembatan Kalibone sampai di warung terakhir di ujung utara Mandalle, itulah batas wilayah Kabupaten Pangkep dari sudut pandang jalan poros yang memanjang telanjang tanpa pengingat. Dari sana ada sejumlah keragaman yang bisa dijumpai terutama soal kulinernya. Jika perjalanan di mulai dari arah selatan maka tempat persinggahan bisa dilakukan di warung ikan bakar yang memang banyak disepanjang jalan poros, di mulai dari ruko Kalibone sampai di Soreang sebelum jembatan Male’leng. Lalu di depan kantor daerah dan depan rumah sakit juga ada, kemudian di pusat kota ada jejeran warung ikan bakar. Terus depan permandian Matampa juga ada sejumlah warung ikan bakar. Dan terus berlanjut di kecamatan Labakkang dan Segeri.
Bila dibandingkan dengan warung makan lainnya, jenis warung ikan bakar dan sop saudara memang banyak dibanding dengan warung makan lainnya, semisal warung coto. Dan warung coto yang banyak dikunjungi cuma di samping terminal lama dan warung coto samping per-pustakaan daerah, selain warung coto lainnya yang ada di pasar. Dan kedua jenis makanan ini di kelola oleh masyarakat setempat. Selanjutnya ragam makanan lainnya merupakan warung yang di kelola oleh para perantau dari Jawa semisal sari laut, bakso, nasi pecel, dan lain sebagainya yang tentu tak kalah enaknya dengan hidangan ikan bakar. Kesemua itu merupakan ragam pilihan lidah masyarakat pangkep, sisa siapkan uang saja. Mmmm.... Jadi pengen coba.

Dugaan kuat yang melatar belakangi banyaknya warung ikan bakar itu dikarenakan karena potensi hasil tambak di Pangkep memang besar terutama ikan bolunya (bandeng), hanya saja masih kurang yang menyediakan udang bakar sebagai menu hidangan, padahal potensi udang juga begitu besar. Terkait dengan hal itu riset yang dilakukan oleh teman-teman menemukan kalau hasil udang lebih diutamakan untuk di ekspor karena harganya yang tinggi, sehingga sangat jarang sekali warga Pangkep menjadikan doang sitto (udang ukuran besar) sebagai menu makanan. Hanya sesekali saja bila ada hajatan yang dilakukan semisal acara pesta pengantin dan hari raya.
Sudut-sudut Pangkep lainnya yang menyajikan jenis makanan lokal adalah jejeran warung Dange disepanjang  jalan di Kec. Mandalle. Dange merupakan sejenis kue tradisional yang terbuat dari beras ketang dicampur dengan gula merah kemudian di bakar dalam tungku, pada umumnya kue ini hanya disajikan pada acara-acara tertentu saja mengingat bahannya tergolong langkah dan  pembuatannya yang lumayan sulit.
Riset yang dilakukan ketika melacak siapa yang pertama kali membangun warung dange di pinggir jalan Mandalle, ada kesulitan yang dihadapi karena semua pemilik warung mengklaim kalau dirinya yang pertama. Tapi terlepas dari itu semua, satu hal yang harus diingat bahwa perjuangan para pewarung Dange tersebut untuk terus bertahan sangat luar biasa, yang mungkin dalam benak mereka kalau kegiatan menjual kue Dange hanyalah suatu kegiatan ekonomi. Namun dibalik dari usahanya itu, mungkin mereka tidak menyadari akan kontribusi besar dalam memperkenalkan Pangkep di Sul-Sel ini.
Karena akan terpatri dibenak kita sejumlah asosiasi kuliner ditiap Kabupaten. Semisal, Maros yang terkenal dengan Roti Marosnya, Jeneponto dengan Coto Kudanya, Takalar dengan Jagung rebusnya, Pare-Pare dengan Roti mantonya, Majene dengan Bajenya, dan Gowa dengan Putu Cangkirnya.
Hal ini membuktikan kalau pondasi sejarah suatu daerah tidak hanya ada pada satu titik saja. Maksudnya adalah sejarah suatu daerah hingga dikenal tidak diukur hanya dengan titik-titik infrastruktur dari proyeksi kebijakan pemerintah daerah saja. Karena jika demikian maka tidak ada keadilan sejarah bagi kaum bawah. Se-bagaimana sejarah klasik menjelaskan dan hanya mengagungkan nama para raja-raja yang memabangun tembok raksasa di Cina. Padahal ada ribuan kuli yang yang mungkin kelaparan demi tegaknya pondasi tembok tersebut. Dan hal seperti itu mengisyaratkan akan begitu banyaknya pewartaan dalam menuliskan ingatan sejarah.
Kita tahu betul akan adanya gagasan dalam benak kita untuk diketahui dan dikenal oleh banyak orang dari segi mana saja. Dan tentu kita membutuhkan suatu rancangan strategis dari pengolahan terhadap potensi lokal yang sudah ada. Baru-baru ini dalam salah satu tayangan behind the scane kompetisi film dokumenter Eagle Award di Metro TV, dimana salah satu finalis dari kota Jember mencoba menfilmkan kreasi sejarah komunal dari daerahnya tentang karnaval Cat Walk jalanan. Dan idenya tidak main-main, ia mencanangkan kalau kota Jember merupakan satu-satunya kota di Indonesia yang akan memiliki karvaval kelas dunia. Dan seperti di ketahui bersama Eagle Award 2007 di menangkan oleh Suster Apung yang lokasinya di Pangkep.
Kota Pangkep yang kita huni ini memang masih terus hamil dan melahirkan sejarah-sejarah sesuai dengan keinginan yang menghamilinya. Artinya arah sejarah masih satu arah, yakni dari atas kebawah. Inilah konsep sejarah kekuasaan yang bermata satu, yang menurut Azyumardi Azra disebut sebagai sejarah dari “pusat”. Akibat akhirnya, cerita yang akan kita dengar hanya berkisar pada kontribusi kebijakan para pemimpin tertinggi yang silih berganti.
Lalu apa yang harus dilakukan untuk menyeimbangkan ingatan sejarah? Tentu saja ada banyak pilihan selain menggeser pahaman sejarah dari “pusat”. Prancis adalah salah satu negara di eropa yang kita kenal dari sejarah “pusat”nya sebagai negara penjajah dalam perang dunia ke dua. Tapi sekaligus kita kenal dari sejarah “pinggir”nya sebagai negaranya para pemikir dunia. Dan bahkan salah satu sastrawannya Emile Zola mengabadikan sejarah “pinggir” Prancis dalam novelnya “Warna-Warna Paris” di mana men-ceritakan kalau di balik ke-megahan menara Eifel ternyata di bawahnya hidup komunitas pedagang yang selalu tidak mewah dalam kehidupannya.

Oleh,

F. Daus AR
Sebenarnya bukan siapa-siapa

..................Dan Lain Sebagainya

Prajurit Hati

Hilang-hilang sudah nada tulus sejati
Putih suci tanpa dusta di hati
Bagun-bangun lagi membasahi jiwa ini
Nada batin lantunan pengabdian sejati

Reff...   Tetapi bila seberkas sinarmu datang        kembali
            Akan hadir menjadi prajurit hati
            Perjuangan ini kawan tak terbatas           ruang dan waktu
            Akan hadir menjadi prajurit hati

Hidup-hidup lagi raih setiap mimpi
Basuh dahaga setiap hati yang mati

Reff...   Tetapi bila seberkas sinarmu datang kembali
            Akan hadir menjadi prajurit hati
            Perjuangan ini kawan tak terbatas ruang dan waktu
            Akan hadir menjadi prajurit hati


Arman Naim
Saat ini masih berusaha
menyelesaikan study di STAI DDI Pangkep


Awal yang Asing
(Antara Mengawali, Ikan kering dan Bangkit kembali)

Mengawali tulisan ini, ijinkan saya terlebih awal mengahaturkan permohonan maaf jika apa nantinya yang tersuguhkan dalam uraiannya sungguh kusam, kering dan terkesan jauh dari kewajaran nilai ilmiah serta syarat-syarat idealitas sebuah tulisan, la-yaknya sebuah tulisan dari pakar semisal Cak Nur, Kang Jalal, Khalil Gibran, Gede Prama atau penulis yang lainnya, ketika mereka menyuguhkan tulisan-tulisannya.
Pada kesempatan ini, jujur dan mungkin dengan sangat menyesal saya ingin men-gatakan, bahwa sejak berkecimpung dalam sebuah dunia yang baru, inilah tulisan kali pertama yang sempat tergoreskan kembali pasca ataupun ketika telah usai menjalani dunia akademisi. Menjadi seorang mahasiswa selama empat tahun lamanya kemarin, bak seorang narapidana yang baru terbebaskan dari sebuah penjara atau ibarat seorang perantauan yang baru kembali ke kampung halamannya setelah bertahun-tahun me-rantau, demikianlah kondisi yang terasakan saat mengawali tulisan ini. Begitu asing dan sangat kaku. Asing dalam mencari sebuah sumber dan tema inspirasi serta demikian kaku dalam menggerakkan jemari atau ketika merangkai kata demi kata.
Demikianlah kesadaran yang hadir saat mengawali tulisan ini, sebuah kondisi  asasi yang manusiawi sifatnya, yang mungkin akan di rasakan sama oleh mereka-mereka yang lama meninggalkan sebuah bidang atau profesi, kemudian didesak untuk menjumpai atau menemui hal itu kembali, meskipun  dengan sendirinya telah jauh dari konteks semula serta dalam ruang yang telah berbeda pula. Memang akan terasa menyesakkan awalnya, namun seiring dengan waktu tentulah semuanya akan kembali terjawab dan menjadi kebiasaan-kebiasaan yang seperti dahulu lagi , baik ketika awal sekali memulai ataupun ketika gairah dalam tulis-menulis itu lagi sedang panas-panasnya menyeruat kembali, pastilah semuanya akan terbiasa lagi,dan yang pastinya satu hal yang terpenting dari kesemua hal tersebut dan mungkin juga hal-hal yang lainnya, apa pun itu sejatinya modalnya hanyalah keinginan kita yang kuat serta usaha-usaha kita yang maksimal.   
Memang tidak mudah mengulang waktu yang telah berlalu, demikian mungkin adagium yang cocok dialamatkan ke saya ketika memuat tulisan ini, segalanya sungguh berat dan terasa kering, serta hampir membuat saya menjadi ikan kering, dan akan hal yang satu ini saya teringat ucapan dari orang tua dahulu di kampung ketika mereka berujar: sebelum dirimu menjadi seperti ikan kering di kehidupan ini maka berusahalah ketika menjadi ikan basah agar dirimu tetap terus basah jangan sampai sedikitpun kamu belajar dan mencoba untuk menjadi kering, karena nasibmu akan menyerupai ikan kering. Lama juga saya berfikir untuk sampai menemukan apa makna yang tersirat dari kata orang tua itu dahulu mengapa saya dan juga mungkin kita semua dalam kehidupan ini selalu dituntut untuk selalu menjadi ikan basah dan jangan mencoba belajar menjadi ikan kering. Ikan kering ternyata bermakna asing yakni asing dari dunianya, itu makna yang pertama. Bukan saja karena jika kita ditanya tentang ikan apa yang tidak ada di laut pasti jawabannya adalah ikan kering, tetapi lebih dari itu dilarangnya kita asing dalam hidup ini yang dimaksudkan adalah agar jangan sampai kita menjadi manusia-manusia individualis yang melupakan ke-beradaan orang lain, sama dengan ikan kering yang meskipun mengelak sekuat tenaga atau segala daya tetap dia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sebuah komunitas yang berasal dari air dan ber-bangsa dengan makhluk yang disebut  ikan. Terlepas dari apapun jenisnya, dia tetaplah berbangsa ikan yang kebetulan dalam keadaan kering atau karena terkeringkan oleh kondisi.
Manusia-manusia yang hanya hadir untuk selalu berfikir mementingkan atau memenangkan kepentingan sendiri, me-maksakan kehendaknya dan tanpa mem-perdulikan hak-hak serta eksistensi orang lain, maka bersiaplah disebut sebagai ikan kering yang berwujud manusia. Makna kedua, mengapa kita sebagai manusia diharapkan untuk tidak serupa dengan ikan kering ialah karena pembawaannya yang paradoks di-rindukan sekaligus juga dibenci, demikian halnya ikan kering meskipun memiliki aroma khas yang menggugah selera ketika dikonsumsi yang menjadikannya senantiasa dirindukan tetapi keberadaannya tak terlepas dari bentuk hujatan khususnya ketika di-keringkan baunya begitu menyengat dan minta ampun,  serupa dengan kita manusia yang sering memiliki kepura-puraan sifat dan karakter yang sebentar putih sebentar hitam atau sejenak baik sejenak buruk hanya dikarenakan kepentingan tertentu atau faktor gengsi. Hampir setengah dari kehidupan kita dihabiskan untuk ber-sandiwara bahkan sangat disayangkan terdapat dari sifat-sifat ini hampir pasti menyebabkan kita menjadi manusia-manusia munafik, bersikap baik ketika berhadapan tetapi ketika di belakang kita menikam atau berhianat. Tapi anehnya manusia dengan pribadi demikian sungguh banyak dari kita yang justru mengelukan meskipun tak sedikit pula dari sebagian yang lain tetap menghujatnya, demikianlah karakter ikan kering  dan sekali lagi jika masih terdapat karakter ini yang melekat dalam diri kita masing-masing maka bersiaplah kita disebut sebagai manusia dengan pembawaan ikan kering.
Dan makna yang ketiga dari ikan kering ialah bahwa ikan kering bersifat musiman tidak kontinyu, ketika musim panas datang maka akan ramailah pembuatan dan pemasarannya, tetapi giliran musim hujan tiba maka kuranglah peredarannya dan tersimpan rapilah ia dalam bungkusan atau kardus dan hanya sekali kita jumpai. Akan halnya dengan kita manusia yang bersifat serupa ikan kering, maka kecendrungan kita dalam banyak hal hanyalah ikut-ikutan mengikuti musim atau keterlibatan kita hanyalah jika diuntungkan, tapi jika tidak maka kita akan enggan serta apatis dalam melakukan berbagai kebaikan.
Demikian pula kiranya dengan tulisan perdana saya ini kuakui sangat kering dan asing, meski dunia penulisan ini pernah terakrabi, segalanya tetap menyiratkan terkaan akan pelbagai seluk beluk di-dalamnnya, penuh tanda tanya dan tak jarang sarat akan kerumitan, bahkan menempel tema saja kemudian mengkorelasikan dengan dunia real rumitnya sungguh bukan main, ini sudah terbukti dengan uraian yang ada dalam tulisan ini, sebentar-sebentar asing lalu sebentar-sebentar kering. Tapi apa pun bentuknya tulisan ini, sejatinya nilailah yang akan menilainya dan harapanlah yang akan mengharapkannya dan jauh dalam relung sanubari penulis ada keinginan besar dengan tersampaikannya tulisan ini. Terasing tapi tidak ingin menjadi asing meskipun tak berisi dan syarat muatan ilmiah ada hal yang ingin teraih yakni mengawali dan bangkit kembali, Kata Gede Prama mari belajar atau bubar untuk selamanya. Olehnya itu dari pada menjadi kering dalam hidup ini mari mengawali dan bangkit kembali sahabat.
Mengawali serupa dengan jejak pertama akan menentukan langkah kaki selanjutnya kedepan. Dan bangkit serupa dengan ajimat yang akan menyelamatkan kita dari sebuah jurang gelap keterpurukan.

AR. Manzis
Setiap hari pegang buku dan duitnya orang


...........................Sekedar Info

Rubrik apa saja yang ada di buletin ilalang : Bengkel Redaksi merupakan cuap-cuap dan refleksi kegiatan yang telah dilaksanakan oleh UKM SENI ilalang serta kumpulan terima kasih dan harapan-harapan. Corat-Coret merupakan catatan lepas dari sudut pandang mana saja dan terserah mau bercerita tentang apa saja asal bisa di pertanggung jawabkan. Catatan Harian adalah kolom yang dipersiapkan atas kesaksian terhadap realitas yang dijumpai di Kab. Pangkep. Dan Lain Sebagainya merupakan campur sari tentang apa saja yang wajib untuk ditampilkan agar diketahui. Sekedar Info tentu saja berupa sajian informasi tentang kegiatan yang akan dilaksanakan atau berupa space iklan. Dan gambar sampul diambil saat pentas menyanyikan “Prajurit Hati”. Dari kiri : F.Daus AR Perkusi, Ady pada Rhytem Gitar, Arman Naim Gitar Melody, Bebek Backing Vokal, Ipo Backing Vokal, Ida Vocal, dan Muis Vocal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar