...........bengkel redaksi
Selamat datang di tahun 2010. Ucapan seperti ini diucapkan oleh seluruh penghuni planet bumi ini dengan ragam bahasa dan budayanya. Dan bersamaan dengan itu, ucapan belasungkawa untuk wafatnya Gusdur jelas diucapkan juga dari seluruh pelosok negeri ini, (kami pun turut berduka cita).
Sebenarnya, semua adalah kepastian dan bukanlah suatu kebetulan jika di hari yang sama ada suatu kejadian terjadi secara bersamaan. Terserah kalau itu kemudian merupakan kisah getir atau kisah manis.
Dan di awal tahun 2010 ini semua orang pasti punya rencana untuk menjawab kelanjutan strategi hidup selanjutnya, se-kaligus punya semacam evaluasi yang entah besar atau kecil dari segala bentuk tata cara menjalani hidup di tahun sebelumnya. Ada banyak hal yang bisa dilakukan setelah perjalanan panjang yang melelahkan ini, dan harusnya kita juga berhenti sejenak merenungkan bentuk kemanusiaan yang telah kita capai.
Tapi ada juga kesempatan yang begitu panjang untuk terus-terusan bermalas-malasan dalam situasi yang kabur. Hal itu bisa terjadi di karenakan hilangnya beberapa kepercayaan terhadap realitas yang tengah kita jalani setiap hari. Seolah setiap detik ada pengkhianatan yang menusuk dari segala arah yang mengharuskan kita terkapar dalam labirin luas tanpa dinding pembatas yang jelas.
Namun di luar dari itu semua, kita berhak untuk melawan atau berdiam diri, karena hakikat peperangan yang besar bukanlah menaklukkan musuh-musuh seraya berpesta sesudahnya. Musuh dalam dirilah yang harus di lawan. (merujuk pada sabda Rasulullah). Dan revolusi bukanlah santapan makan malam sebagaimana yang di peringatkan oleh Mao Tse Tung (bapak komunis Cina)
Akumulasi kesadaran kita semua tentunya menjadi hakim yang arif dalam mengeksekusi sejumlah tumpukan persoalan yang tidak selesai di tahun yang lalu, dan hari ini apakah mau diselesaikan atau membiarkannya membusuk begitu saja.
Maka dari itulah edisi ke empat ini kami rancang untuk kembali mengganggu ke-tenangan pikiran sidang pembaca, dan men-coba menawarkan wacana yang mungkin abstrak dan tidak aktual bagi situasi yang anda hadapi. Dan tentu menganggu tidur panjang anda yang tidak pernah lelap itu. Tapi paling tidak, edisi ke empat ini berusaha untuk lebih jujur lagi dan menjadi teman yang tidak mencurigakan dengan ragam retorika belaka.
buletin ilalang: Adalah salah satu proyek kerja dari UKM SENI ilalang STAI DDI Pangkep dalam bidang dokumentasi dan penulisan. dan sebagai jendela informasi tentang seputar kegiatan. Sekaligus dimaksudkan sebagai wadah bagi teman-teman dalam menuliskan sejumlah eksperimen kepenulisan agar tercipta model baru dalam menuliskan kesaksian. Dan juga merupakan program bahan bacaan gratis yang bisa dijumpai di warung-warung kopi, perpus daerah, sekolah dan di kampus. Redaksi menerima sumbang tulisan dari mana saja berupa, Cerpen, Puisi, Catatan Harian, Artikel, Essai, Foto dan Karikatur. Bagi yang berminat bisa menghubungi langsung ke : 085 244 151 755 (F.Daus AR) / 081 355 846 303 (Pio AN) / 085 298 269 515 (Kamal N). Atau kirim ke email ilalangddipangkep@yahoo.co.id. Karya yang di muat tidak akan mendapatkan honor apa pun. Kami hanya meyakinkan kalau karya anda merupakan yang terbaik dari yang tidak baik-baik. Thats All, Key....!
............corat-coret
Assalamu Alaikum, Kami Wisudawan Organik
Kebenaran tidak akan membuat anda kaya,
tapi kebenaran membuat anda merdeka.
(Will Durant)
Judul di atas merujuk pada wacana yang dilontarkan oleh Eko Prasetyo dalam bukunya yang berjudul “Assalamu Alaikum, Islam Itu Agama Perlawanan”. Dan wacana intelektual organik di adopsi dari gagasan Dr. Mansour Fakih lewat bukunya “Jalan Lain, Manifesto Intelektual Organik”. Konsentrasi pembahasannya adalah mencoba mengaitkan Out Put sebuah universitas atau perguruan sekolah tinggi yang kemudian melewati sebentuk prosesi wisudawan sebagai bentuk simbolis atas mahasiswa yang telah menuntaskan studinya. Dan di tahun 2010 ini STAI DDI Pangkep menggelar hajatan tersebut dengan jumlah mahasiswa yang akan di Wisuda 134 orang (hasil konfirmasi dari ketua panitia).
Jelas ada yang bergembira karena telah menjumpai hasil akhir setelah empat tahun kuliah, dan ada pula yang lebih bergembira karena telah mendapat fasilitas (kebijakan) dengan mudahnya, tanpa harus melewati tetek bengek perkuliahan, hanya dengan bukti konversi yang be-gitu....(pembaca tafsirkan sendirilah) juga ikut di wisuda. Yang pastinya ada juga yang memungut kekecewaan dari bawah meja pengelola karena dipersulit, meski itu cuma persoalan teknis saja.
Kadang kami mengamini kalau persoalan yang dihadapi para alumni ketika berkasnya dipersulit untuk CPNS daerah beberapa tahun terakhir ini, adalah merupakan imbas dari dosa-dosa lembaga yang memberikan kebijakan dengan tidak proporsional antara mahasiswa yang konversi dengan mahasiswa yang berjuang sejak awal. Dan kamipun mengamini kalau doa bukanlah penghapus atas dosa-dosa kebijakan yang timpal itu, melainkan perubahan sistem secara mendasar dan kejujuran dari pihak lembaga sendirilah sebagai jawabannya.
Kami ingin mengetuk pintu-pintu kehidupan dengan sapaan yang berbekas dalam jiwa setiap orang yang kami jumpai dan tidak serta merta membuat kami berada dalam puncak piramida yang tidak terjamah, hanya karena kami seorang sarjana. Malah sebaliknya kami ingin berfungsi sebagaimana layaknya seorang terpelajar yang membawa nafas perubahan dalam masyarakat.
Kesarjanaan ini akan kami jaga dan menempatkannya dalam tempat layaknya. Karena kesarjanaan yang kami peroleh bukanlah hasil negosiasi atau merupakan hasil merengek yang kikuk. Melainkan kesarjanaan kami ini diperoleh dengan melawan hari-hari selama empat tahun, menunggu dosen yang terkadang tidak tepat janji, mengumpulkan pecahan rupiah untuk melunasi uang semester dan dengan bekal doa orang tua kami yang tulus itu.
Kami pastinya melawan bila ada sesuatu keganjalan yang kami saksikan, karena hal itu sudah merupakan esensi pada tingkat kesadaran kritis kaum intelektual organik, meski dengan kesadaran penuh akan segala bentuk konsikuensinya yang bisa saja disematkan pada kami. Dan hal ini mungkin terkesan arogan, tapi kami memiliki sejumlah alasannya untuk semua itu.
Jika kami bisa mengalahkan suatu ketidak adilan, itu bukanlah karena takdir kami, atau karena hasil belas kasih. Melainkan karena hasil kerja keras kami untuk selalu gelisah dan melawan. Kurang lebih Subcomandante Marcos (pemimpin pemberontak rakyat Ciapas, Mexico) memperingatkan demikian.
Sampai disini, kami memproklamirkan diri kami sebagai wisudawan organik. Sebuah sikap seorang terpelajar yang selalu memilih jalan sunyi kebenaran untuk hari-harinya.
F. Daus AR
Saat ini sedang membaca bukunya Gusdur yang berjudul “Tuhan Tidak Perlu di Bela”
Wisuda dan Perguruan Tinggi,
Sebuah Pengakuan sekaligus Pertaruhan Eksistensi
Bukanlah tugas kita untuk menyelesaikan pekerjaan sampai sempurna, tetapi yang jelas kita sama sekali tidak berhak untuk tidak mengawalinya sekarang. (Erich Fromm)
Sejatinya, kehadiran tulisan ini merupakan sebuah tulisan obyektif yang mestinya diperuntukkan untuk ber-bagai ragam watak pembaca. Kalau pun nantinya terkesan subyektif, semoga ulasannya sedikit banyak ada yang bisa tersepakati karena sesungguhnya obyektifitas merupakan subyektifitas yang tersepakati. Demikian Kahlil Gibran suatu waktu pernah bertutur jernih.
Sebuah bentuk pengakuan tidaklah gampang, ia mesti berawal dari mengakui, diakui lalu terakui, barulah pengakuan itu disebut sebagai sebuah pengakuan. Sebuah pengakuan pun mesti berhadapan dengan proses ujian, diuji barulah ia teruji sehingga lahir sebagai sebuah pengakuan sejati.
Sebuah pengakuan juga minimal mutlak memiliki dua syarat yang harus dipenuhi agar kehadirannya tidak hanya sebagai sebuah pengakuan semu dan instan. Pertama, paling tidak berbentuk kompetensi. Kedua, kita sebut implementasi. Segala hal yang menyandang kata peng-akuan. Terlepas layak atau tidaknya mesti memenuhi dua syarat diatas. kompetensinya memang mumpuni dan implementasinya pun juga harus pasti, jika dua hal tersebut tak hadir ataupun hanya memenuhi salah satunya maka sebuah pengakuan tidaklah dapat disebut sebagai sebuah pengakuan yang mutlak dan sejati.
Wisuda sebagai bentuk pengakuan eksistensi
Akan halnya dengan pelaksanaan suatu wisuda pada sebuah sekolah ataupun perguruan tinggi. Kegiatan tersebut memang hanya merupakan kegiatan formalistis akademik, namun secara subtansi. Di dalam wisudalah titik kulminasi sebuah proses penemuan ilmu dan eksistensi melebur untuk mendapatkan sebuah pengakuan baik dalam diri maupun di masyarakat, sebagai seorang lulusan sebuah perguruan tinggi yang bertitle sarjana.
Serupa dengan kelahiran seorang bayi yang meminta pengakuan dengan tangisannya ketika ia lahir, seorang sarjana pun membutuhkan sebuah instrumen baik dalam bentuk pemikiran ataupun tindakan untuk mendapatkan pengakuan sebagai seorang sarjana. Kurang lebih empat tahun proses perkuliahan dengan segala muatan akademis yang dilaluinya merupakan suatu proses persemaian intelektual seorang sarjana untuk menjadikannya sebagai seorang yang pantas mendapatkan pengakuan sebagai sarjana sejati, dan bukan sekedar sarjana pedati ataupun seorang sarjana merpati. Dan menjadi hal yang sangat riskan tentunya bila kepemilikan gelar sarjana dengan segala bentuk pertanggung jawaban moralnya (kepada Tuhan, masyarakat, keluarga dan diri sendiri) diperoleh tanpa melalui sebuah proses persemaian akademik yang serius tetapi hanya didapatkan dengan mekanisme kompromistis, kolusi nilai/prosedural maupun pe-nyelesaian tugas akhir (skripsi) dengan menggunakan jasa pihak ke-3 (makelar-makelar skripsi).
Pelaksanaan wisuda dalam makna yang lain dimaksudkan sebagai sebuah kegiatan akademik untuk mengukur, bukan saja kuantitas lulusan dari sebuah perguruan tinggi tetapi juga menjadi pertaruhan besar akan nasib masa depan sebuah kampus dengan barometer kualitas para alumni yang menjadi lulusannya di masyarakat. Sebuah ironi besar dan mimpi yang mengawang-awang jika lulusan perguruan tinggi diharapkan berkualitas dimasyarakat tanpa etika aka-demis yang secara prosedural dilaluinya, bahkan tak jarang bukan antusiasme dari masyarakat yang akan didapatkan tetapi sebaliknya hanya cemooh, hujatan dan antipati abadi yang akan disematkan masyarakat pada perguruan tinggi tersebut.
Masyarakat sebagai pengukur kesuksesan Perguruan Tinggi
Disadarai atau tidak, masyarakat memainkan peran penting atas keberadaan sebuah perguruan tinggi dimana pun ia berada. Hal tersebut merupakan sesuatu yang mutlak menjadi perhatian pengelola perguruan tinggi karena masyarakat memiliki beberapa fungsi penting terhadap keberadaan sebuah perguruan tinggi. Beberapa fungsi penting dari masyarakat ialah sebagai donatur, peminat, medan real aplikasi keilmuan alumni dan juga sekaligus sebagai juri yang layak dalam mengukur sebuah perguruan tinggi dalam bereksistensi.
Dalam bingkai yang sederhana, tak dapat dipungkiri kalau masyarakatlah penentu utama kesuksesan suatu perguruan tinggi. Tanpa peran serta masyarakat di dalamnya, keberadaan sebuah perguruan tinggi hanyalah akan menjadi gedung hantu tak berpenghuni dengan segala ruang-ruangnya itu, melalui masyarakatlah sebuah perguruan tinggi di olah oleh pengelolanya menjadi sebuah tempat pergumulan keilmuan dan jati diri para mahasiswa di dalamnya, yang untuk selanjutnya menjadi pribadi-pribadi handal yang berguna dan siap pakai di masyarakat. Dan tak jarang karena hujatan dan image buruk yang disematkan oleh masyarakat pada perguruan tinggi, beberapa dari perguruan tinggi menjadi lumpuh dan gulung tikar bahkan layu sebelum berkembang disebabkan masyarakat anti pati atas keberdaannya.
Ukuran tertinggi kesuksesan sebuah perguruan tinggi di masyarakat secara umum ditentukan oleh barometer Link and Makesnya para lulusan perguruan tinggi terhadap dunia kerjanya dan sejauh mana keberadaannya baik civitas akademisi maupun kualitas lulusannya dalam memberikan kontribusi terhadap kemajuan-kemajuan dan pembangunan dalam masyarakat. Sejauh dua hal ini tak tercipta, maka perguruan tinggi akan dinilai sebagai sebuah perguruan tinggi yang gagal dan tak memiliki kompetennsi dalam membuka sebuah jurusan atau melakukan proses perkuliahan.
Satu hal yang menarik di masyarakat saat ini khusunya tentang ukuran kesuksesan sebuah perguruan tinggi meskipun merupakan sebuah ukuran yang sangat dangkal, ialah kurang tertariknya mereka untuk memasukan putra-putri mereka pada sebuah perguruan tinggi yang tidak memiliki legalitas formal (akreditasi) atau pada sebuah perguruan tinggi yang tidak memberikan mereka jaminan bahwa setelah lulus putra-putri mereka mampu diterima untuk mendaftar CPNS pada setiap pendaftaran CPNS di sebuah daerah pada setiap tahunnya, ukuran masyarakat sangat sederhana dengan menganggap bahwa bukanlah sebuah perguruan tinggi yang baik dan layak jika pada perguruan tinggi tersebut tidak ada lulusannya yang pernah atau kelak menjadi seorang PNS. Sepakat atau tidak, inilah salah satu dari sekian banyak ukuran masyarakat dalam menilai sebuah perguruan tinggi.
Dan menjadi sebuah pertaruhan besar tentunya bagi pengelola sebuah perguruan tinggi jika ukuran ataupun pertanyaan-pertanyaan masyarakat tersebut tidak mampu untuk dituntaskan dengan sebuah jawaban dan sebuah bukti yang memuaskan. Bahkan karena persfektif masyarakat inilah sambil setengah bercanda dalam sebuah diskusi, penulis pernah mengutarakan sebuah ide pengharusan sebuah perguruan tinggi diakhir semester untuk memberikan mata kuliah yang berisi materi tips dan trik lulus menjadi CPNS atau pembahasan soal-soal CPNS pada mahasiswanya.
Gerak Perguruan Tinggi dan Mahasiswa dalam bekapan kompleksitas zaman (setitik solusi)
Telah menjadi sebuah keniscayaan zaman bahwa segala hal apapun bentuknya mesti bergerak seiring dengan lajunya. Sebagaimana layaknya penggambaran Khalil Gibran yang pernah mengutarakan bahwa zaman ibarat sebuah arak-arakan, yang mendapatinya dengan jalan cepat pasti akan terlindas dan yang mendapatinya dengan lambat, juga akan tertinggal. Maka selayaknyalah sesuai dengan tuntutan zaman dengan segala kompleksitas persoalan yang hadir di dalamnya, sebuah perguruan tinggi pun dituntut untuk bergerak dan membenahi diri untuk kemudian melaju seirama dalam iringan zaman. Pembenahan internal menjadi salah satu item keharusan yang tak terelakkan, semua stakeholder dalam perguruan tinggi mesti bergerak dan bersinergi untuk menjadikan perguruan tinggi yang ditempatinya sebagai perguruan tinggi yang layak mendapatkan pengakuan sejati di masyarakat.
Untuk hal tersebut seyogyanya optimisme akademik menjadi kebutuhan mendasar yang harus dimiliki oleh setiap pengelola perguruan tinggi dan semua civitas akademisinya, pembenahan manajemen kampus dan prilaku pengelola ke arah profesionalisme, serta dukungan budaya akademik seperti fasilitas dan manajemen keuangan yang baik (transparan) serta kehadiran semangat sense of belonging pada diri setiap civitas akademika, merupakan modal utama sebuah perguruan tinggi dalam pembangunan kedepan guna bergerak sesuai dengan iringan zaman.
Dan bukan hanya pengelola sebuah perguruan tinggi saja yang diperuntukkan akan hal tersebut. Optimisme akademik itupun mutlak tumbuh dan menjadi milik setiap mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi tersebut, untuk kemudian bersama-sama menjalin sinergi visi dalam mewujudkan sebuah perguruan tinggi yang berkualitas dan memang layak menjadi tempat persemaian keilmuan dan jati dirinya ke depan.
Aktualisasi peran dari mahasiswa tentunya beragam sesuai dengan kondisi dari setiap perguruan tinggi yang ditempatinya, kualitas keilmuan (gelar kesarjanaan nantinya) yang didapatkan dengan jalur-jalur prosedural/etika akademik serta kreatifitas yang tiada henti. Merupakan salah satu hal yang tentunya dapat menjadi sebuah pembuktian atas mahasiswa terhadap keikutsertaannya dalam membangun citra sebuah perguruan tinggi yang layak men-dapatkan pengakuan yang sejati di masyarakat.
Akhirnya kami kepada setiap Perguruan tinggi, sekolah atau apapun mereknya semoga kehadirannya bukan sekedar formalistis belaka, tetapi lebih dari itu mampu menjadi wadah kulminasi keilmuan para peserta didik yang ada di dalamnya, agar benar-benar segala proses yang dilalui dan keilmuan yang telah didapatkan dapat dipertanggung jawabkan khususnya secara secara moral demi mendapatakan pengakuan sejati atas gelar yang disandangnya.
Semoga setiap Perguruan tinggi, sekolah atau apapun namanya mampu menjadi tempat terbaik dan kuil bagi jiwa..!!!
Oleh,
A h y a r M a n z is
Penjual Buku
......... sekedar info
BEM STAI, MAHADDIPALA, dan UKM SENI ilalang STAI DDI Pangkep mengucapkan selamat kepada para Wisudawan tahun 2010, semoga bisa menjadi lentera di tengah masyarakat. Dan selamat kepada alumni STAI DDI Pangkep yang lulus CPNS 2009 di Kab. Maros Muh.Risal.A.Ma, Sadrawati. A.Ma, Darmawati.A.Ma, Kartini.A.Ma, Kurniawati.A.Ma, Nurhaedah.A.Ma. Kab. Barru. Rappe Tang.A.Ma. Kab. Buru Maluku/Ambon, Rubianti, A.Ma, dan Kupang/NTT, Hamsinar, A.Ma.
( Karikatur pada sampul pada edisi cetakoleh, Arman Naim)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar