Sabtu, 25 Juni 2011

Semangat Baru


...........bengkel redaksi

Lama sekali rasanya baru bisa tampil kembali menyapa para pembaca yang budiman. Dari beberapa bulan sejak musim Pilkada lalu, barulah kali ini bulletin ilalang berusaha untuk menyusun kalimat dalam berkomunikasi dengan pembaca bulletin yang selalu menunggu edisi terbaru.
Jika boleh jujur, ada banyak momen kegiatan yang telah dilalui. Baik itu kegiatan internal kampus maupun kegiatan diluar kampus yang menyita dan menguras tenaga kami, sehingga kami terkadang lupa untuk merekamnya lewat catatan-catatan dalam bulletin seperti yang edisi yang lalu-lalu.
Olehnya itu melalui edisi kedelapan ini rangkuman kegiatan yang telah dilewati, kami mencoba mengingatkan kembali.
Sebelum memasuki bulan puasa kemarin. Kampus ijo kita yang tercinta ini telah kedatangan “tamu” (baca: pendaftar) yang jumlahnya lumayan banyak, mereka datang dari segala penjuru mata angin di Kabupaten Pangkep. Hal itu tentunya suatu kesukuran yang luar biasa yang harus kita perlakukan sebaik mungkin.
Setelah mereka diterima dengan baik, beberapa diantara mereka berniat untuk tinggal mengisi hari-harinya untuk menimbah ilmu. Tercatat jumlahnya 63 orang yang kemudian dibekali pengetahuan dasar tentang isi rumah Kampus STAI DDI Pangkep ini melalui kegiatan Trapemaru selama tiga hari satu malam.
Melalui orientasi yang berkonsep non kekerasan itu para Mahasiswa baru terlihat begitu antusias meski ada juga diantara mereka ada yang mengalami kelelahan fisik (pingsan) dan kesurupan. Namun hal itu sudah bukan lagi hal yang baru, mengingat pelaksanaan Trapemaru sebelumnya juga terjadi hal yang demikian. Sehingga panitia tidak lagi merasa panik untuk menanganinya.
Selanjutnya beberapa lembaga mahasiswa perlahan bangkit kembali, dimulai dari kegiatan LDK tingkat SMU yang dirancang oleh HMJS (Himpunan Mahasiwa Jurusan Syariah) sebagai sebuah tanda dalam mencatatkan dirinya kedalam sejarah dan ingatan para mahasiwa.
Selain tentunya selingan kegiatan nonton bareng dan bedah film pendek dirangkai dengan pembacaan puisi oleh Ketua STAI dan Pak. Amir sebagai kejutan kegiatan bagi Maba karena pada malam itu juga diserahkan sertifikat Trapemaru.
Lalu lembaga mahasiwa yang paling tua di Kampus Ijo, Mahaddipala juga telah melaksanakan Mubes untuk memulai suatu langkah baru dari para generasi mudanya.
Terakhir, lembaga mahasiswa paling central yakni Badan Eksekutif Mahasiwa juga telah menggelar Mubesnya untuk ke enam kalinya dengan mencatat Muh. Yuhar sebagai Ketua terbaru pilihan mahasiswa.
Tentunya kita semua berharap dari wajah baru dari generasi baru para pemegang tongkat estafet lembaga mahasiwa di Kampus Ijo ini mampu menggerakkan lembaga yang dikomandoinya menuju capaian yang lebih baik.
SEMOGA... 




bulletin ilalang:Adalah salah satu proyek kerja dari UKM SENI ilalang STAI DDI Pangkep dalam bidang dokumentasi dan penulisan. dan sebagai jendela informasi tentang seputar kegiatan. Sekaligus dimaksudkan sebagai wadah bagi teman-teman dalam menuliskan sejumlah eksperimen kepenulisan agar tercipta model baru dalam menuliskan kesaksian. Dan juga merupakan program bahan bacaan gratis yang bisa di jumpai di warung-warung kopi, perpus daerah, sekolah dan di kampus. Redaksi menerima sumbang tulisan dari mana saja berupa, Cerpen, Puisi, Catatan Harian, Artikel, Essai, Foto dan Karikatur. Bagi yang berminat bisa menghubungi  langsung ke :
085 244 151 755 (F.Daus AR) / 081 355 846 303 (Pio AN)
Atau kirim ke email : ilalangddipangkep@yahoo.co.id. / Fb: ilalangddipangkep
Karya yang di muat tidak akan mendapatkan honor apa pun.
Kami hanya meyakinkan kalau karya anda merupakan yang terbaik dari yang tidak baik-baik. Oc....!

............corat-coret


Mahasiswa Vs Dosen

Kita tak perlu lagi mengulangi tentang pembahasan apa itu mahasiswa dari segi etimologi, maupun pengertian baku tentang dosen. Karena sejauh ini kami anggap para pembaca sudah mengetahuinya.
Catatan ini hanya mengetengahkan tentang realitas yang terjadi dikampus Ijo sebagai tempat kita selaku mahasiswa yang bertemu dengan dosen pada jam kuliah.
Seorang teman kuliah menceritakan kalau salah seorang dosen pada pertemuan pertama mengatakan kalau ia tidak akan mengizinkan mahasiswa mengikuti final jika ada mahasiswa yang tidak mengikuti kuliahnya sebanyak empat kali pertemuan. Atau kisah lain dari seorang dosen yang memberi kebijakan kepada mahasiswa terkait dengan perolehan nilai, hal itu diukur dengan tingkat kerajinan seorang mahasiswa meski kemudian sang mahasiswa yang rajin itu belum tentu paham akan mata kuliah yang telah disajikan, kemudian dikontraskan dengan seorang mahasiswa yang jarang masuk kuliah akan tetapi mampu memahami soal final dari mata kuliah yang telah diajarkan selama satu semester.
Berdasarkan pengalaman teman-teman usai final jelas mengalami kekecawaan akibat kebijakan dari sang dosen yang memakai penilaian yang demikian. Padahal sebagaimana diketahui bersama kalau niat kita dalam melakukan aktivitas perkuliahan tentunya untuk mendapatkan informasi baru tentang pengetahuan, hasil dari dialektika atau penalaran dosen untuk selanjutnya ia informasikan kepada mahasiswa sebagai bahan dialog bersama. Jadi yang dibangun adalah suatu interaksi pemahaman terhadap ilmu pengetahuan secara berkelanjutan, sehingga aktifitas perkuliahan menjadi menggairahkan.
Nah, dari itu kemudian akan terlihat suatu keseriusan mahasiswa dalam menjalani perkulihan mengingat beragamnya tingkat pemahaman mahasiswa dalam satu ruangan.
Dapat dibayangkan kalau interaksi bakal berjalan dari dosen kemahasiswa maupun dari mahasiswa kemahasiswa. Sehingga hasil akhirnya tidak ada lagi trauma bagi mahasiswa untuk mendapatkan nilai yang rendah karena tidak sempat mengikuti perkuliahan. Karena ia bisa mendapatkan hasilnya dari teman mahasiswa lainnya. Atau tingkat pemahamannya dapat ia buktikan melalui final atau pengerjaan tugas sebagai konpensasi yang cerdas untuk menutupi ketidakhadirannya.
Karena orientasi terpenting dalam suatu perkuliahan bukanlah penekanan pada sikap adaftip mahasiswa terhadap seorang dosen. Melainkan harus dibangun hubungan yang elastis agar tidak terjadi tekanan satu sama lainnya.
Sebagai contoh sikap dosen yang memberi ancaman kepada mahasiswa untuk mengikuti pertemuan minimal empat kali sebagai syarat mengikuti final. Hal ini jelas sebagai sebuah bentuk pengkodisian keaktivan bagi mahasiswa. Jadi bisa diukur kalau kerajinan mahasiswa mengikuti perkuliahan bukan karena motif akan pentingnya pengetahuan yang didapatkan, melainkan pada terapi ancaman dari dosen.
Olehnya itu perlu memikirkan kebijakan yang sifatnya tidak menekan dalam menghadapi mahasiswa yang jarang masuk, agar kedepan ukuran untuk mendapatkan nilai yang baik bagi mahasiswa bukan lagi berdasarkan pada kehadiran semata. Karena jika demikian sama halnya kalau dosen tidak memiliki penghargaan terhadap pengetahuan itu sendiri maupun terhadap pengetahuan dasar mahasiswa.

Oleh,

F. Daus AR
Sebenarnya malu kalau harus mengaku sebagai Mahasiswa

..........catatan harian

Manusia Tas

Apa pentingnya tas bagi manusia?. Jika pertanyaan ini kita ajukan kepada seorang tukang bentor, mungkin jawabannya akan merepotkan. Apalagi jika tasnya berukuran besar.
Tapi jika pertanyaan ini kita ajukan kepada seorang pendaki gunung, jawabannya bisa sangat panjang. Karena tas tentu merupakan sesuatu yang sangat vital untuk menunjang aktifitas selama pendakian. Dan hal yang sama juga akan berlaku bagi seorang anak sekolah atau mahasiswa dalam menunjang penyimpangan buku dan berkas yang dibutuhkan.
Tas merupakan sejenis tempat untuk menyimpan sesuatu yang sifatnya sebagai penunjang kepraktisan dalam mendukung aktifitas keseharian manusia. Sejauh ini ada banyak jenis dan ukuran tas yang bisa digunakan sesuai dengan skala kepentingan bagi yang memerlukannya.
Fungsi awal sebuah tas memang diperuntukkan untuk menyimpan barang yang dibutuhkan selama melakukan aktifitas di luar rumah. Semisal membawa pakaian ganti atau sikat gigi jika sedang memiliki kepentingan menginap di rumah kerabat atau yang lainnya. Dan begitu kembali lagi ke rumah, maka kegunaan tas tak lagi dibutuhkan karena sudah ada lemari untuk menyimpan baju atau kamar mandi untuk menyimpan sikat gigi.
Namun seiring berkembangya aktifitas personal manusia yang jarang tinggal di rumah, maka membawa tas sudah menjadi sesuatu yang wajib. Apalagi orang tersebut aktif dalam suatu organisasi kampus atau perkumpulan lainnya. Makanya kita sering mendengar sebutan “sekret berjalan” karena segala kebutuhan administratif organisasi selalu siap dalam tas. Entah itu stempel, bulpoin, kertas, amplop, bahkan sikat gigi lengkap dengan pasta plus sabun, dan tentu saja deodoran serta parfum.
Dewasa ini hampir bisa dipastikan kalau setiap manusia yang sering melakukan aktifitas diluar rumah pasti menggunakan tas, tak terkecuali dengan ibu-ibu yang hendak berbelanja kebutuhan sehari-hari dipasar. Singkatnya, tas telah menjelma menjadi hal yang semi primer bagi manusia, entah sebagai penunjang aktifitas ataupun sebagai bentuk style dalam menunjang penampilan di tengah masyarakat.
Karena berdasarkan sejarahnya yang paling purba, penggunaan tas sebelum abad ke empat belas di Afrika juga dimaksudkan sebagai penanda kelas sosial, meski pada saat itu belum muncul istilah tas untuk menyebutnya (Foster, 1982). Barulah setelah perang dunia ke dua istilah tas banyak digunakan untuk menyebut tempat penyimpangan barang yang praktis yang bisa dibawa kemana-mana setelah beberapa iklan dimajalah memperkenalkan berbagai ukuran dan jenis tas.
Jadi sebuah tas yang digunakan oleh manusia saat ini juga menunjukkan status sosial dan bentuk aktifitas yang dijalani. Tas juga menunjukkan sebentuk identitas tertentu dengan corak dan motif yang digunakan, hal itu bisa kita lihat dengan penggunaan tas oleh kalangan militer yang aslinya tidak di jual bebas dipasaran. Tapi terlepas dari itu semua tas sudah menjadi tanda sosial dimasyarakat.

Oleh,

F. Daus AR
Setiap hari juga menggunakan Tas


Panggil saja Kami Kaum Difabel
­
Difabel (differently able) atau kelompok manusia yang memiliki kemampuan berbeda, adalah istilah yang tengah diperjuangkan untuk menggantikan istilah disable atau penyandang cacat. Karena istilah tersebut mengandung streotipe negatif dan bermakna disempowering. (Mansour Fakih, 2002).
Pada dasarnya “cacat” atau “normal” adalah hasil konstruksi sosial yang berlangsung dalam menentukan sebentuk label pada diri manusia yang dianggap memiliki kesempurnaan dalam bentuk fisik atau sebaliknya. Terlepas bahwa seseorang sudah cacat sejak lahir atau mengalami suatu kecelakaan yang membuat anggota tubuhnya mengalami disfungsi.
Pada kehidupan sosial selanjutnya, mereka yang dianggap memiliki disfungsi anggota tubuh, semisal tuli (tuna rungu), buta (tuna netra), pincang, dan lain sebagainya perlahan akan tersingkirkan dalam kontak sosial dan bahkan termarginalkan. Lebih jauh dianggap kalau kebaradaan mereka adalah sebuah masalah yang harus diselesaikan dengan “membunuhnya” kedalam panti-panti asuhan atau tempat rehabilitasi sosial lainnya. Padahal mereka juga manusia yang memiliki potensi yang sama dengan manusia yang dianggap “normal”.
Karena image yang terbangun adalah menempatkan penyandang cacat dengan ketidakmampuan dan ketidaknormalan yang dimiliki, padahal sejauh ini tidak bisa dibuktikan secara teoritik maupun empirik kalau mereka tidak memiliki kemampuan. Orang buta misalnya, masih memiliki kemampuan berfikir dan berkomunikasi. Se-bagaimana dengan orang pincang yang belum tentu tidak bisa berjalan, kalau hakikat berjalan yang dipahamai adalah berpindah dari satu tempat ketempat lainnya. Masalahnya adalah mereka sering dibandingkan dengan manusia yang memiliki kelengkapan anggota tubuh dalam beraktifitas, sehingga panyandang cacat tersubordinasi dari ruang-ruang kerja yang secara ekonomi lebih mapan dan terdepak pada pekerjaan serabutan. Semisal tukan pijat atau pembuat sapuh.
Kekerasan juga seringkali menghampiri penyandang cacat, secara budaya. Mereka yang memiliki anggota keluarga kelainan mental maupun fisik biasanya akan disembunyikan (dibekap) dikamar tertentu dan tak jarang ada yang dipasung, kekerasan lainnya bersifat psikis yakni ejekan yang begitu destruktif yang menghampiri mereka yang penyandang cacat.
Melalui sejarah konstruksi sosial penyandang cacat yang panjang, melahirkan pandangan yang beragam dalam menilai kaum difabel ini. Pandangan konservatif menilai kalau itu sudah merupakan takdir Tuhan yang tak bisa dihindari. Pandangan liberal menganggap kalau itu merupakan gejala dalam suatu masyarakat yang mesti ditertibkan dengan pendekatan terapi kemampuan. Jadi kaum cacat akan dibedakan dengan mereka yang normal dalam hal apapun, termasuk soal pendidikan, yang hari ini kita kenal dengan SLB (sekolah luar biasa), padahal metode seperti  itu malah semakin membuat subordinasi sosial karena menyepelekan hakikat kemanusiaan yang sifatnya setara. Lagipula, pengelompokan seperti itu semakin menunjukkan “ketidakberdayaan mereka”. Yang terakhir pandangan kaum kritis yang menempatkan kalau adanya “cacat” dan tidak “cacat” adalah merupakan hasil reproduksi suatu ilmu pengetahuan sosial yang erat kaitannya dengan ideologi. Dalam hali ini paham positivistik yang menempatakan manusia sebagai fungsi kebendaan.
Jadi terkait adanya pemahaman yang beragam tentang mereka yang disebut penyandang cacat adalah merupakan kontruksi sosial, dan bukan merupakan sebuah takdir sebagaimana yang dialamatkan oleh mereka yang berpandangan konservatif.
Dalam kacamata demokrasi sosial, baik mereka yang memiliki anggota tubuh yang lengkap maupun yang tidak sama-sama memiliki kesempatan yang sama dalam pusaran publik. Karena yang utama adalah kemampuan dalam berbuat dan berfikir.

Oleh,
Arung Muthahari Razak
Saat ini tinggal di Pangkep

..........wawancara

Berikut ini merupakan hasil wawancara data yang dilakukan kepada 50 responden di kampus Ijo terkait beberapa hal, baik isu internal kampus maupun hal-hal lainnya dengan menggunakan Quesioner. Namun mengingat keterbatasan ruang dalam bulletin ini, jadi kami rampung saja beberapa subtansi isu dan wawancara tanpa menyebut nama responden.

Ilalang : Bagaimana pandangan anda melihat perkembagan situasi nasional saat ini dengan adanya beberapa musibah gempa yang datang beruntun?
Responden #1 : menurut saya ini merupakan aksi reaksi dari eksploitasi alam secara berlebihan, apalagi kasus gempa Wasior, itu murni bencana ekologis dan bukan bencana alam.
Responden # 2 :
Saya melihatnya sebagai siklus penyesuaian alam terhadap harmoni kehidupan manusia. Pada wilayah ini memang banyak pandangan melihat gejala alam dengan dampak gempa yang menelang banyak korban.
Ilalang : Saat ini Pangkep menjadi tuan rumah Porda dan Porcada, bagaimana anda melihat itu ?
Responden # 1 : Itu merupakan langkah bagus dalam memperkenalkan laju pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur di era Otoda sekarang ini. Intinya saya sangat setuju dengan hal itu.
Responden # 2 : Meski terkesan dadakan terkait perbaikan fasilitas yang ada, tapi saya mendukung Pangkep. Hanya saja sejauh ini sosialisasi belum merata masyarakat, hal itu bisa kita lihat di daearah terpencil. Masyarakat sama sekali kurang mengetahui akan hal ini.
Ilalang : Sebaiknya apa yang harus dilakuakan Pemerintah Daerah terkait pengembangan kegiatan kepemudaan ?
Reponden : Kalau saya jelas, alokasikan anggaran yang signifikan bagi kegiatan kepemudaan secara proporsional dan transparan agar tidak terjadi kecemburuan yang bisa berdampak konflik horisontal.    

Ilalang : Sebagaimana diketahui bersama, kampus Ijo telah dilengkapi fasilitas Hotspot, menurut anda bagaimana ?
Responden # 1 : Hal itu sangat bagus dalam menunjang proses belajar mengajar, dan kalau perlu jaringannya menjangkau semua ruangan perkuliha yang ada.
Responden # 2 : Menurut pengalaman teman yang mencoba On Line beberapa hari dikampus mengatakan kalau Paswordnya sengaja disembunyikan oleh pengelola, menurut saya, langkah ini jelas tidak transparan, padahal mahasiswa memiliki hak yang sama dengan pengelola dalam mengakses internet dan menikmati layanan fasilitas yang ada. Kalau hal ini terus dipelihara maka akan muncul mosi tidak percaya kepada pihak lembaga yang bisa berdampak pada kurangngya peminat mahasiswa yang bakal mendaftar tahun depan.
Ilalang : Sejauh ini dua Lembaga kampus,Mahaddipala dan BEM telah melaksanakan Mubes dan memilih pemimpin baru, menurut anda ?
Responden # 1 : Itu adalah konsikuensi logis dalam memberikan injeksi baru terhadap suatu lembaga, semoga kedepan dua lembaga ini makin eksis.
Responden # 2 : harapan saya semoga BEM dan Mahaddipala mampu bekerja secara profesional dan membuang jauh-jauh warisan konflik yang tidak sehat selama ini yang mengganggu jalannya organisasi
Responden # 3 : Ini adalah era baru dimana dua ketua yang terpilih dari masing-masing lembaga masih semester 3, jadi orientasi idealis sangat mungkin untuk tercipta, ditambah lagi kedua lembaga telah melakukan kegiatan sebagai penanda akan pembuktian dari pengurus baru yang ada.
Ilalang : Menurut anda fasilitas apa saja yang belum lengkap di Kampus Ijo ini ?
Responden : kalau menurut saya, hal mendesak yang harus dibenahi adalah pengalokasian anggaran yang jelas kepada setiap lembaga kampus yang ada, tidak perlu jumlah yang banyak yang jelas kontinyu, yang kedua adalah, pengadaan Sound System di Aula agar mahasiswa tidak lagi meminjam dan menyewa alat jika ada kegiatan.    



 ...........sekedar info

Selamat atas Pengurus Baru BEM STAI DDI Pangkep, dan Aksi Sosial Penggalangan Dana untuk Korban Gempa Wasior, Mentawai dan Merapi pada tanggal 29-30 Oktober 2010 yang berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp. 5.026.600,-

Selamat atas Pengurus Baru MAHADDIPALA & Suksesnya Kegiatan Try Out Akbar Tingkat SLTA/SLTP Se-Kab. Pangkep yang telah
 di Laksanakan pada Hari Minggu, 31 Oktober 2010 di Ruang Pola Kantor Bupati Pangkep

Tidak ada komentar:

Posting Komentar