Sabtu, 25 Juni 2011

Rekomendasi Kulambing, Gerakan kembali ke Kampus, Profil Mahasiswa dan lain sebagianya.....!!


...........bengkel redaksi

Tak terasa bulletin ilalang sudah terbit untuk ketuju kalinya dengan ragam wajah yang sederhana di setiap edisi.
Jujur harus kami akui kalau ada kesulitan yang lumayan sulit untuk dijelaskan setiap kali merancang edisi terbaru, kemudian ada kebahagiaan yang yang tak kalah rumitnya bila sudah terbit. Seolah kami telah menempuh sebuah perjalanan yang panjang dengan sedikit bekal.
Kami ingin menceritakan kembali beberapa aktifitas beberapa hari belakangan ini yang telah dilalui bersama teman-teman. Dimulai pada awal bulan Juni, kami menghadiri acara perpisahan salah satu posko KKLP STAI DDI Pangkep tahun 2010 di Desa Tompo Bulu.
Kami tiba pada pukul 17.06. di sisa sore menjelang magrib, teman-teman menyempatkan waktu untuk uji coba bermain sepak bola dengan team Dentong FC yang berakhir dengan skor kaca mata (0-0). Malam harinya masyarakat setempat memberi suguhan mappadendang, sebuah jenis kesenian tradisional yang sudah sangat jarang dipentaskan. Dan nyayian gambusu oleh kelompok kesenian lainnya yang masih eksis di Desa yang terkenal dengan gula merahnya itu.
Usai seremonial perpisahan KKLP yang berlangsung kurang lebih dua jam itu. Kami yang hadir menyimpan perasaan yang sulit dijabarkan antara malu, bangga, dan sedih melihat penampilan teman-teman yang masih terlihat kaku berbicara didepan publik.
Tapi kami menyadari kalau yang menjalani program KKLP adalah teman-teman yang jarang kami jumpai dalam mata kuliah yang tidak di “SKS” kan yakni kegiatan berorganisasi.
Aktifitas lain yang kembali menyatukan kami kedalam satu rasa adalah laga uji coba dengan team sepak bola sejumlah desa. Yang terakhir melawan keseblasan Padanglampe dengan skor yang cukup meyakinkan kalau kami kurang stamina dikarenakan malamnya kami begadang di Pualu Kulambing. Hasil akhir sebelum wasit meniup peluit tanda pertandingan telah usai yakni dengan skor 5-2 untuk kemenangan team Padanglampe. Tapi hal itu tetap membuat kami bangga, karena yang terpenting adalah prosesnya.
Lalu pada tanggal 5 Juni kemarin, tercatat sedikitnya 30 orang lebih berangkat kepulau Kulambing untuk mengevaluasi kevakuman teman-teman dalam segala hal. Utamanya menyangkut krisis SDM teman-teman dan rencana sosialisasi kampus untuk merekrut mahasiswa baru.
 Pada awalnya Kabupaten Pinrang menjadi pilihan utama untuk dijadikan tempat menyusun strategi, tapi karena adanya pertimbangan-per-timbangan yang tidak tersepakati, akhirnya pilihan jatuh pada pulau Kulambing yang jaraknya lumayan dekat bila berangkat dari dermaga Labuangbaji.
Dari sana lahir rekomendasi Kulambing yang intinya mengajak teman-teman untuk berbuat yang lebih banyak lagi tanpa pamrih untuk kampus IJO yang kita cintai ini.
Kembali kekampus, kembali mencari ilmu, kembali menjadi manusia, dan kembali mencari cinta...Oc





bulletin ilalang:Adalah salah satu proyek kerja dari UKM SENI ilalang STAI DDI Pangkep dalam bidang dokumentasi dan penulisan. dan sebagai jendela informasi tentang seputar kegiatan. Sekaligus dimaksudkan sebagai wadah bagi teman-teman dalam menuliskan sejumlah eksperimen kepenulisan agar tercipta model baru dalam menuliskan kesaksian. Dan juga merupakan program bahan bacaan gratis yang bisa di jumpai di warung-warung kopi, perpus daerah, sekolah dan di kampus. Redaksi menerima sumbang tulisan dari mana saja berupa, Cerpen, Puisi, Catatan Harian, Artikel, Essai, Foto dan Karikatur. Bagi yang berminat bisa menghubungi  langsung ke :
085 244 151 755 (F.Daus AR) / 081 355 846 303 (Pio AN).  Atau kirim ke email : ilalangddipangkep@yahoo.co.id..
Karya yang di muat tidak akan mendapatkan honor apa pun.
Kami hanya meyakinkan kalau karya anda merupakan yang terbaik dari yang tidak baik-baik. Oc....!

............corat-coret

Rekomendasi Kulambing

Terbersit harapan baru ketika kekuatan logika berganti menjadi logika kekuatan, yakni kemauan untuk berbaur kembali bersama adik-adik untuk sama-sama berbuat. Hal itu diperlihatkan sejumlah alumni yang tergabung dalam IKASDI (Ikatan Alumni STAI DDI Pangkep).
Mereka datang bukan untuk menjadi guru yang fasis dengan membawa tumpukan tugas beserta sanksi yang harus dijalani. Lebih tepat dikatakan sebagai rumah panggung yang siap dijadikan tempat menginap lengkap dengan jamuan makan malamnya.
Merekomendasikan semangat lampau yang dulu dijalani ketika masih dipenuhi jadwal kuliah yang penuh dengan dedikasi, bahwa membiayai kegiatan organisasi yang asalnya dari kantong pribadi bukanlah sesuatu yang haram sekaligus tidak wajib. Jika keadaan menghendaki dimana agenda sudah mendesak untuk digerakkan tapi dana belum ada, maka hukumnya tergantikan dengan kerelaan menghibahkan sebagian pendapatan agar kegiatan tetap terlaksana.
Meski mereka (para alumni) berangkat dari ruang kuliah di saat akar belum kuat, yang berlaku adalah menunggu waktu untuk memunculkan penggerak baru. Pengkaderan menjadi mentah karena selimut tebal masih menyembunyikan dusta dan ego dalam diri masing-masing.
Sebagaimana akhirnya para prajurit berjalan dengan peta buta hasil rancangan masing-masing, mereka singgah makan, minum, dan tidur dimana saja sesuai kehendak naluri.
Lalu siapa yang salah. jika dalam hati kita tergetar melihat realitas yang menghampiri setiap mahasiswa dan lembaga kemahasiswaan di kampus ijo hari ini maka besar kecilnya kita turut andil dalam kepincangannya. Kita kehabisan metode untuk mela-hirkan prajurit hati yang bergerak dengan peta yang dirancang dari ruang-ruang diskusi.
Terapi kegiatan yang beberapa bulan terakhir ini dilakukan dengan memasang nama-nama sebagai panitia pelaksana ternyata belum menyentuh ketitik otak kiri dan kanan teman-teman untuk merancang kegiatan-kegiatan baru.
Ada yang tidak terhubung karena teman-teman memaknainya kalau dirinya adalah pekerja, dan berkata “kapan lagi ada kegiatan kanda”. Sebuah kepolosan yang tak sepenuhnya salah karena injeksi metode yang digunakan hanya merangsang otot bukan otak.
Ketidakterhubungan lainnya adalah niat tulus alumni dan mahasiswa yang tidak dipahami oleh pengurus lembaga, kecurigaan yang tidak pasti menggerogoti laci meja pemangku kebijakan kampus ijo yang sudah terakreditasi ini. Padahal dialog sudah sering kali dilakukan untuk sama-sama terbuka dalam pengembangan kampus kedepan.
Pekerjaan rumah berikutnya ada pada pola hubungan antara senior dan junior, alumni dan mahasiswa serta pengurus lembaga. Kita harus sadar kembali dan memposisikan diri menjadi subyek yang bebas, hubungan haruslah menjadi partner yang hidup dan bukan sebagai patron. Karena patronase hanya melahirkan generasi pelapor dan bukan generasi pelopor.
Kesempatan itu akan selalu datang seiring bergulirnya waktu yang menjadi saksi. Disebuah pulau yang bernama Kulambing, kesepakatan untuk menjadi pementas sebuah lakon sejarah, mencatat nama-nama yang akan menempati sebuah posisi yang sama, yakni menjadi tokoh utama dalam kapasitasnya masing-masing. Karena agenda men-desak sudah didepan mata, maka setiap hari adalah janji yang harus dipenuhi dan setiap tempat adalah panggung yang mesti digunakan untuk mementaskan kebanggan kalau kita bagian dari kampus Ijo.
Dalam fase ini, inilah dunia kita selaku entitas untuk membuktikan derajat kemanusiaan yang kita emban.
Melalui catatan kecil ini, semoga denyut nadi kita berdegub kencang yang menandakan kalau dedikasi itu akan selalu menyertai perjalanan setapak kita di kampus Ijo yang masih terus berbenah menuju kesempurnaannya.
Rekomendasi Kulambing adalah sebuah dialog yang belum final dan akan terus mengetuk pintu hati teman-teman dan pengurus lembaga untuk berbuat yang lebih banyak lagi. 

Oleh,
F. Daus AR
Bukan siapa-siapa

............ dan lain sebagainya

Sajak yang ingin Jujur-jujur Saja


Aku ingin jujur-jujur saja
Kalau aku sama dengan kalian yang ingin di dengar, bukan hanya mendengarkan
Aku ingin jujur-jujur saja
Kalau aku sama dengan kalian yang hidup di suatu negara yang penuh dengan sejumlah pemilihan
Aku ingin jujur-jujur saja
Kalau aku sama dengan kalian yang punya cinta untuk sebuah nama yang masih kita cari
Aku ingin juju-jujur saja
Kalau aku sama dengan kalian yang lahir dari rahim bangsa yang bisa saja berbeda kemudian mengenakan baju bermerk indonesia
Aku ingin jujur-jujur saja
Kalau aku sama dengan kalian, ketika sudah bisa untuk mengingat sesuatu maka kita juga akan mengingat nama-nama koruptor lewat sinetron berita
Aku ingin jujur-jujur saja
Kalau aku sama dengan kalian, yang ketika berjanji maka pada saat itu pula kita belajar untuk berdusta
Aku ingin jujur-jujur saja
Kalau aku sama dengan kalian, yang ketika berkumpul dengan teman-teman. Maka kita disibukkan untuk mencari rokok dan secangkir kopi
Aku ingin jujur-jujur saja
Kalau aku sama dengan kalian, yang tahu kalau sholat itu adalah salah satu cara untuk mengingat-Nya, tapi kita masih saja enggan membasuh wajah ini dengan wuduh
Aku ingin jujur-jujur saja
Kalau aku sama dengan kalian, yang tahu kalau membaca itu dapat membuat kita menjadi lebih beradab, tapi mata ini lebih senang dibuat nanar didepan kotak bergambar bernama televisi menyaksikan kepura-puraan
Aku ingin jujur-jujur saja
Kalau aku sama dengan kalian, yang tahu kalau menulis itu adalah sebuah tindakan revolusioner agar kita diingat, tapi jemari ini lebih senang memencet mouse komputer atau stek untuk bermain game yang sebenarnya membuat kita semakin malas
Aku ingin jujur-jujur saja
Kalau aku sama dengan kalian, yang masih berusaha meyakinkan pikiran kalau perbedaan itu hanya ada dua yakni  kebaikan dan kejahatan, selebihnya adalah sama
Aku ingin jujur-jujur saja
Kalau aku sama dengan kalian, yang ingin menikah karena kita merindukan sebuah keluarga yang bahagia
Aku ingin jujur-jujur saja
Kalau aku sama dengan kalian, yang tahu kalau gelar terakhir yang akan di sandang adalah “almahrum”, tapi terkadang kita masih saja berjalan dengan kesombongan yang membuat kita lupa.
Oleh:
F. Daus AR
Orang yang ingin jujur-jujur saja


............ catatan harian

Setiap Zaman Melahirkan Tokohnya Sendiri


......satu-satu daun berguguran
satu-satu tunas muda bersemi
redahlah,,,reda...
redahlah tangis
redahlah tawa......
                (Satu-satu, Iwan Fals)
Penggalan lagu Iwan Fals diatas kurang lebih menggambarkan akan hukum alam yang tak terbantahkan kalau seorang tokoh akan muncul dalam setiap fase (zaman) dan dalam setiap komunitas. Tapi bukan berarti tulisan ini melegitimasi adagium dan syair lagu pelantun “Bento” tersebut. Ada alasan tersendiri secara obyektifitas dalam lingkup komunitas berdasarkan rekomendasi catatan harian para alumni maupun pantauan kami (redaksi).
Olehnya itu dimulai pada edisi kali ini, redaksi merasa perlu untuk menampilkan beberapa profil generasi baru kampus IJO STAI DDI Pangkep. Dan selanjutnya rubrik catatan harian dalam bullettin ilalang ini akan memuat secara berkala sejumlah profil generasi penerus kampus Ijo, atau dalam bahasanya filsuf politik Italia Antonio Gramsci, yakni intelektual organik (orang-orang yang menonjol dalam suatu komunitas).

Muh. Yuhar.  Begitulah yang tercantum dalam absen semester II Tarbiyah. Pria kelahiran pulau Karanrang 21 November 1989 ini memilih kuliah di STAI dikarenakan keinginan besarnya untuk kembali kepulau tempat kelahirannya membangun sumber daya manusia yang lebih baik. Alasan lainnya adalah karena kampus STAI menurutnya sangat memberi kebebasan kepada setiap mahasiswa untuk mengembangkan diri meski fasilitas masih sangat minim. Tapi penggemar diving dan sepak bola ini menaruh harapan yang sangat besar kalau kampus STAI kedepan bakal menjadi trendster kampus di daerah, khususnya di Kabupaten tiga dimensi ini. Selain kuliah, tentu saja Tofu, sapaan akrabnya dikampus, selalu aktif dalam setiap kegiatan lembaga kemahasiswaan. Baik itu di BEM, Mahaddipala, team bola kampus Ijo FC, atau di UKM SENI ilalang. Kesemua itu merupakan investasi yang sangat berharga dalam pengembangan wawasan kedepan demi mencapai sebentuk cita-cita yang terpatri dalam setiap manusia dalam menjawab tatangan masa yang akan datang.  “Dalam dunia kampus mahasiswa harusnya memposisikan diri sebagai pemain dalam setiap kegiatan dan bukan sekedar penonton. Baginya sangat penting untuk selalu aktif dalam kegiatan dan belajar dari prosesnya agar kedepan kita bisa merancang kegiatan sendiri”. Ucapnya mengakhiri pembicaraan via telephon dengan redaksi.

Ia berasal dari hutan jeruk dipedalaman Padanglampe sana dengan tekad yang kuat untuk melanjutkan jenjang pendidikakannya yang lebih tinggi, dan memilih kampus STAI DDI Pangkep karena menurutnya ia tak bisa dipisahkan dari roh DDI. “Sekolah tingkat atas saya selesai di Madrasyah Alya DDI Padanglampe, jadi seluruh aliran darah saya sudah berbau ke “DDI”an. Katanya saat redaksi berkunjung kerumahnya beberapa hari yang lalu.
Lelaki yang sedikit pendiam ini memiliki langkah yang bagus dalam keorganisasian di Kampus Ijo, kemarin ia sukses menjabat sekretaris panitia mendampingi Ady pada kegiatan Kampung Kreatifitas Pelajar Pangkep 2010. Tidak hanya itu, mahasiswa jurusan Tarbiyah semester dua ini juga
aktif di Mahaddipala dan menyandang nama “BELALANG”. Jenis hewan yang hanya bisa dijumpai ditempat yang hijau semisal sawah atau area perkebunan. Dan itu klop pada diri seorang lelaki kelahiran 10 Oktober 1989 ini, karena ia sekarang lagi merumput dikampus Ijo.
Meski jarak rumahnya yang terlampau jauh dari lokasi kampus. Semangatnya tetap merah membara untuk selalu aktif dalam setiap kegiatan. Lebih jauh diutarakan oleh pemilik nama asli Supardi ini, “kalau kesempatan itu tidak datang dua kali, jadi kalau diberi amanah untuk menjalankan kerja organisasi maka itu harus diterima”.

Ia sama dengan Belalang, berasal dari rimbunan pepohonan jeruk di Padanglampe yang berkunjung kekota Pangkajene dalam rangka mengejar cita-cita untuk menjadi guru.
“Kelinci” adalah nama yang disandangkan dipundaknya setelah mengikuti Diksar angkatan ke Lima Mahaddipala tahun 2009 kemarin. Dara kelahiran 29 Maret 1988 ini adalah satu dari sekian banyak penerus kaum hawa di Kampus Ijo setelah era Umrah dan kawan-kawan yang telah selesai masa studinya.
Konsistensinya dalam berorganisasi tak diragukan lagi, terbukti waktu pelaksanaan kegiatan “Kampung Kreatifitas Pelajar 2010” ia tetap hadir dan menginap mengurus logistik panitia meski diderah sakit. Bersama rekannya Irma dan teman-teman lainnya, ia selalu sigap mengerjakan hal-hal untuk kelancaran konsumsi panitia.

Jika anda menyebut nama “Safaruddin” dikampus Ijo, maka pertama kali anda akan ditunjukkan dengan sosok salah satu senior yang berbadan besar yang kemarin baru saja menggelar resepsi pernikahannya. Setelah itu barulah anda ditunjukkan dengan sosok pria kelahiran Tabotabo 18 Januari 1991 yang menyandang nama “MEONG”. Tak dapat dipungkiri kalau lelaki tulen bertubuh small ini memiliki bakat
humor yang luar biasa, ia sukses memerankan sosok “ajudan” waktu pentas drama peringatan Halal bi Halal kemarin dan sempat mengocok perut almahrum Bupati Syafruddin Nur. Dan berdasarkan hasil  jajak pendapat peserta “KampungKreatifitas Pelajar 2010” menempatkan Meong sebagai master of ceremony (MC) yang paling digemari dengan aksinya diatas panggung yang luar biasa..........(pembaca artikan sendiri) Selain itu ia dipercaya sebagai penanggung jawab “Baksos” di kampus hasil kesepakatan di Pulau Kulambing beberapa hari yang lalu berdasarkan rekomendasi kanda Maskur al Jafaeny.

Dalam lingkup keorganisasian Mahaddipala, ia didaulat untuk menyandang nama “TOKEK” yakni binatang melata yang menurut para ahli adalah jenis amfibi yang mampu mendeteksi keberadaan mangsanya dimanapun ia berada. Dan hal itu diperankan dengan baik oleh pemilik nama asli Zulkarnain ini.
Jika sudah mengeluarkan istilahnya “Stombut” sebuah kosa kata yang tidak semua orang bisa memahaminya. Maka waspadalah, karena indra pen-ciumannya sudah mendeteksi sesuatu yang tersembunyi.
Itulah salah satu ciri khas pria kelahiran Minasate’ne 17 Agustus 1988 ini. Ciri khas lain yang melekat pada lelaki berkulit sawo matang ini adalah sikapnya yang selalu mengalah dan ramah dengan sunggingan senyumnya yang merobek hati meski keadannya sudah sekarat. Saat wawancara dengan redaksi beberapa hari yang lalu, ia selalu menunjukkan rasa optimis yang sangat tinggi meski masalah datang silih berganti menghampirinya. Itulah sebabnya dalam setiap kegiatan dikampus, kurang afdol rasanya kalau pemilik pacar yang bernama Rahmi ini tidak hadir. Karena ia mampu menjadi pemecah kebekuan bila teman-teman sudah pada lowbet.


Jauh sebelum namanya terdaftar sebagai mahasiswa, pria kelahiran 24 November 1990 ini sudah terlibat dalam kegiatan kemahasiswaan di kampus Ijo. Pada kegiatan Camp Competition Student tahun 2009 lalu ia terlibat aktif membantu panitia. Lalu ditahun 2010 ini ia dipercaya untuk menjadi ketua panitia untuk kegiatan yang sama. Sama dengan Zulkarnain ia juga tercatat sebagai generasi muda Mahaddipala dan menyandang nama “BIAWAK”. Binatang terkuat kedua setelah buaya dalam jenis amfibi. Ia menaruh minat yang sangat kuat untuk selalu belajar mengorganisasi teman-teman seangkatannya denganmengajak aktif diberbagai lembaga kemahaiswaan yang ada.
Selain itu ia memiliki sikap konsisten terhadap tanggung jawab keorganisasian. Suksesnya kegiatan ”Kampung Kreatifitas Pelajar Pangkep” bulan april lalu adalah salah satu bukti kalau pemilik nama asli Ardy Wiranata ini layak menjadi kandidat Presiden BEM STAI mendatang.
Disepotong sore dua hari yang lalu dipelataran rumput Ijo, redaksi tengah memergokinya membaca koran bekas. Melihat itu, redaksi langsung mewancarainya dengan ragam pertanyaan untuk mengorek aktifitasnya. Selain kuliah ia tentu saja aktif di Mahaddipala dan juga membantu kegiatan UKM SENI ilalang. Ia juga memanfaatkan gedung sekret untuk tinggal bersama teman-teman. Dan kedepan bersama Yuhar, Zul dan teman-teman lainnya seperti Nasrullah, Meong, Belalang, Pardi, Irma, Kelinci, Ipo, Akbar, Rudi, Papo, Kuda, Syam, Alam, Tamsir, Agus, dan lainnya (profil mereka juga akan dimuat pada edisi berikutnya) berencana mengaktifkan diskusi dan kajian mingguan di Sekretariat. “Hal itu dimaksudkan untuk pembenahan kreatifitas intelektual teman-teman agar tetap eksis dalam dunia kemahasiswaan di Pangkep ini”. Katanya mengakhiri pembicaraan sore itu. semoga......


....Karena Hidup Harus
Di didik....
Gabung yuk...
di STAI DDI Pangkep
status trakreditasi
Nomor : 004/BAN-PT/Ak XII/S1/IV/2009
Jurusan :Tarbiyah (S1)
Syariah (S1)
Kampus sendiri
Beasiswa
Lab. Komputer
Free Hotspot
Mushollah
Lembaga Mahasiswa
BEM, Mahaddipala, UKM SENI ilalang,
UKM Sepak Bola, HMJ

Info Pendaftaran : Kampus STAI DDI Pangkep
Jl. Sultan Hasanuddin Poros Makassar-Parepare Kab. Pangkep
Tlp/Fax. 0410-231110 Pos 90613 E-mail : stai_ddipangkep@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar